JURNALSUKABUMI.COM – Sekum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukabumi, KH Ujang Hamdun, atau biasa dipanggil Kyai Uha mengatakan, kegiatan
haul Habib Syekh Bin Salim Al-Athas sebagai wujud kecintaan para santri kepada para ulama, habaib dan guru.
“Sebagai seorang santri yang mencintai guru-guru dan habaib sudah selayaknya menyambut haul Habib Syekh Bin Salim Al-Athas yang makamnya berada lingkungan Ponpes Al-Masthuriyah dengan penuh cinta dan sukacita,” kata Kyai Uha.
Menurutnya, mereka merupakan orang-orang yang berilmu tinggi dan banyak berjasa terhadap syiar dan keagungan Islam di Kabupaten Sukabumi.
“Tak bisa disangkal bahwa acara haul yang bertepatan dengan bulan Rajab, sebagai bukti kecintaan pada guru dan para habaib. Agar anak cucu kita tahu bahwa inilah para ulama dalam sejarah telah melahirkan ulama-ulama besar khususnya di Sukabumi,” ujarnya.
Dia menambahkan, peringatan haul Habib Syekh kental dengan nuansa Islami menjadikan Sukabumi hingga saat ini dijuluki sebagai kota santri. Mayoritas masyarakat Sukabumi yang beragama Islam tak terlepas dari peran para tokoh agama terdahulu yang telah berjuang dalam mensyiarkan tauladan dari Nabi Muhammad SAW.
Hingga pesannya kata dia, dalam kitab suci Alquran berkembangnya zaman diiringi siklus regenerasi di setiap masanya dapat memungkinkan sosok kyai dan ulama terdahulu yang turut serta membangun sukabumi, kini mulai terlupakan.
Melalui komitmen bersama antara Polres Sukabumi, MUI, Kabupaten Sukabumi, Ponpes An-Nidzom Sukabumi ujarnya menuangkan bentuk pelestarian sejarah untuk memuliakan kyai dan ulama sebagai wujud menjaga kesatuan umat serta memberikan informasi sejumlah lokasi yang sudah semestinya dikunjungi sebagai tempat ziarah.
Murid termuda Habib Syekh Bin Salim Al-Athas yang juga Pimpinan Pondok Pesantren An-Nidzom, Abuya KH Abdulloh Muchtar, mengatakan, haul Habib Syekh Bin Salim Al-Athas merupakan sarana mengingat para leluhur yang telah berjuang mempertahankan keagungan Islam.
“Selintas Abuya akan membukakan sejarah Habib Syekh. Bahwa beliau adalah seorang ulama besar yang diakui kebesaran dan kemasyhurannya oleh masyarakat lokal Sukabumi dan oleh murid-muridnya saja ternyata diakui di dunia terutama di Mekah, Madinah dan Yaman,” ujarnya.
Habib Syekh ujarnya, tinggal di Sukabumi memang pertama tidak dikenal keulamaannya. Tapi lebih menampilkan diri sebagai sosok pengusaha. Namun ternyata Habib Syekh memiliki keluhuran ilmu yang luar biasa.
Menurut tokoh ulama kharismatik itu, Sukabumi adalah kota religius dan kota ulama. Maka dia merasa gembira saat para pemuda mampu tampil melestarikan sejarah-sejarah Sukabumi tentang para tokoh-tokoh agamanya.
Di Indonesia ada empat tokoh besar yang terkenal dengan empat serangkai. Keempatnya adalah Habib Ali Abdurrahman Al-Habsyi, Habib Ali Alatas, Habib Salim Jindan dan Habib syekh ysng telah berjuang mensponsori kemerdekaan Indonesia.
Habib Syekh Salim Alatas diketahui lahir pada Jumat di Huroidah Hadramaunt Yaman pada Shafar 1311 Hijriyah dan wafat pada Sabtu 25 Rajab 1398 H atau bertepatan dengan 1 Juli 1978.
Semasa hidupnya gaya dakwah habib cukup unik dengan kerap memberi hadiah pada santri pada setiap selasa sampai Sabtu. Tidak jarang juga memberikah hadiah pada para santrinya berupa kitab dan jamuan makan dan minum Selesai Ashar bulan Ramadhan.
Berikut daftar makam murid-murid Syekh Bin Salim Al- Athas. Pertama KH Abdullah Bin Husein (Pabuaran), KH. Ajengan Juragan NUH (Cianjur), KH Abdullah Bin Nuh, putra KH juragan Nuh (Bogor), KH Ajengan Muhammad Syuza’i (Ciharashas Cianjur), KH Ajengan Idris Zainudin (Cipetir Sukabumi), KH Ajenegan Munawar (Cilaku Sukabumi) dan KH Ajengan Muhammad Masthuro (Tipar Sukabumi).
Menyusul kemudian makam KH Ajengan Abdullah Sanusi (Sukamantri Sukabumi), KH Ajengan Adullah Mahfudz (Babakan Tipar Sukabumi), KH Ajengan Shalahuddin (Pasir Hayam Cianjur), KH Ajengan Nadziri (Cijurai Sukabumi), KH Ajengan Zubaidi (Dangdeur), KH Ajengan Ahmad Zarsyi Sanusi (Gunungpuyuh) dan KH Ajengan Badri Sanusi (Gunungpuyuh).
Terakhir makam KH Ajengan Syafi’i (Nyalindung-Sukalarang), KH Ajengan Ilyas dan para putranya (Bogor), KH Ustadz Sholeh (Rancabali-Cianjur), KH Ajengan Endang Muhyiddin (Jambudipa Cianjur), KH Ajengan Muhammad Suja’i (Pakuan- Parungkuda) dan KH Ajengan Aang Syadzili (Cibeuruem).
Redaktur: Usep Mulyana












