JURNALSUKABUMI.COM – Puskesmas Cibadak berupaya secara maksimal dalam penanganan stunting salah satunya melakukan pencegahan secara dini, diantaranya melakukan kegiatan penyuluhan langsung kepada masyarakat, berkolaborasi dengan pihak terkait atau lintas sektoral, serta menggaungkan berbagai program.
“Ada tiga klasifikasi stunting yakni berat badan menurut umur, tinggi/panjang badan menurut umur, serta berat badan menurut tinggi badan. Untuk yang berhubungan dengan stunting adalah tinggi/panjang badan menurut umur. Februari 2023 ada 9,6 persen kasus dengan jumlah stunting 285 balita dari yang diukur tinggi badan,” kata bagian Nutrisionis Puskesmas Cibadak Nunung Kanianingsih.
Nunung mengatakan pencegahan bukan hanya dilakukan oleh pihak puskesmas saja, karena stunting itu adalah multisektor.
Pencegahan itu adalah jangan sampai ada atau lahir lagi bayi-bayi stunting. Kalo yang berhubungan dengan penanganan di puskesmas yaitu menggerakkan seluruh balita atau minimal balita yang beresiko stunting harus datang ke posyandu untuk diukur sebagai pemantauan.
Selanjutnya, selain dilakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat khususnya ibu hamil, pencegahan juga dilakukan melalui lintas sektoral yaitu berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait seperti sekolah dan KUA.
Pihaknya melakukan kolaborasi dengan sekolah-sekolah untuk melakukan perbaikan status gizi siswa khususnya remaja putri dengan penyuluhan gizi seimbang, makan sehat bersama, pencegahan anemia, termasuk memberikan tablet tambah darah kepada siswi SMP dan SMA.
Kemudian berkolaborasi dengan KUA, dalam hal perbaikan status gizi calon pengantin setiap sebulan sekali, kemudian penyuluhan terkait bagaimana bayi itu sehat seperti imunisasi, asupan makanan, menunda kelahiran dan lain sebagainya.
Pencegahan juga dilakukan dengan perbaikan lingkungan, karena stunting salah satunya disebabkan oleh lingkungan yang tidak baik, seperti sampah yang bertebaran, banyak makanan terkontaminasi atau airnya tidak layak konsumsi atau tidak punya jamban keluarga.
Untuk mengatasi permasalahan stunting ini, di puskesmas ada yang disebut lintas program, terdiri dari lintas gizi bagian makanan, lintas kesling bagian pemantauan lingkungan serta lintas promosi kesehatan bagian woro-woro, sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat langsung.
Menurut Nunung, sejauh ini koordinasi dengan pihak terkait permasalahan stunting berjalan dengan lancar, seperti berkoordinasi dengan sekolah, KUA, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, kecamatan, MUI, termasuk TNI dan Polri.
“Penanganan stunting bukanlah hal yang mudah seperti membalikan telapak tangan, karena ada banyak faktor penyebabnya sehingga membutuhkan proses yang panjang. Tentunya dalam pelaksanaannya pun ada banyak kendala dan hambatan,” tambahnya.
Faktor eksternal, diantaranya masyarakat tidak mau dicap bahwa anaknya stunting, masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa pendek itu bukan masalah besar,.
Kemudian pemanfaatan posyandu kurang, seolah-olah posyandu itu bukan sesuatu yang tidak perlu, sehingga harus ada kesadaran dari masyarakat sendiri serta sebagai petugas harus lebih baik lagi cara berkomunikasi dengan masyarakat.
Faktor internal yaitu kurangnya SDM, pembina posyandu, keterbatasan bidan, banyaknya pekerjaan sehingga jadi double program.
Seorang anak dikatakan sembuh dari stunting itu bergantung kepada ukuran yang disebut z score, ada rumusnya bukan hanya Indonesia tapi seluruh dunia, ada ukurannya sudah diteliti oleh WHO.
Apakah anaka itu sudah tinggi sesuai dengan umurnya, jadi umur 2 tahun itu harus tinggi minimal berapa ketika kurang dari stater itu berati masih stunting ketika sudah mencapai angka minimal berati sembuh.
“jadi itu yang kita kejar. sehingga dikatakan sembuh itu sudah sesuai dengan standar yang ditentukan yaitu z score,” kata Nunung.
Reporter: Sri Rahayu | Redaktur: AA Rohman












