JURNALSUKABUMI.COM – Perumda BPR Sukabumi, terus menawarkan solusi yang cepat, terukur dan menguntungkan kepada warga, agar tidak terjerat tipu daya rentenir yang pergerakannya kian massive. Caranya, segera beralih menjadi nasabah BPR. Bank milik Pemkab Sukabumi itu, akan menjamin kepastian berusaha dan keamanan dana.miliknya.
Demikian disampaikan Kepala BPR Cabang Cibadak, Wendi Nurdiandi, kepada jurnalsukabumi.com, Jumat (18/3/22). Pada saat bersamaan hadir pula Kepala Cabang BPR Cikembar, Pipih Sopiawati dan Kepala Cabang BPR Parungkuda, Agus.
“Masih ada stigma di masyarakat, bahwa berhubungan dengan bank itu rumit. Padahal, sebenarnya tidak. Justru lewat bank, warga akan mendapatkan penjelasan yang komprehensif tentang masa depan usahanya,” kata Wendi.
Namun demikian kata dia, bank juga memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang harus dilalui.
“Kita akan melakukan penelitian dan cek lapangan untuk mengetahui keberadaan calon nasabah tentang jenis usahanya, lama waktu usaha dan peluang kesinambungan usahanya. Ini semua berkaitan dengan kemampuan pengembalian pinjaman dari para debitur,” ujarnya.
Kepala BPR Cabang Cikembar, Pipih Sopiawati menuturkan, pihaknya akan memberikan fasilitas dan kemudahan-kemudahan bagi para nasabah dan calon nasabah. Dia berharap, agar warga cepat menghentikan untuk berhubungan dengan para rentenir.
“Ada nasabah kami yang pernah terjebak bujuk rayu rentenir sampai nangis-nangis di kantor. Dari Rp10 juta jadi Rp 15 juta pinjamannya. Meskipun bunganya sudah dibayar. Kalau ada rekan yang berhubungan dengan rentenir, coba bantu untuk menghentikannya,’ tegasnya.
Sementara itu, Kepala BPR Cabang Parungkuda, Agus mengatakan, BPR Parungkuda tetap akan menyalurkan kredit sahabat mikro bagi pelaku usaha ekonomi lemah.
“Sasaran kami adalah ekonomi lemah. Bank itu menggunakan analisa-analisa.Kalau rentenir itu asal menyalurkan dana tanpa pakai analisa. Kalau tingkat pengembaliannya atau kemampuan bayarnya baik,.kenapa tidak kita tingkatkan nilai pinjamannya,” kata Agus.
Terkadang kata Agus, ada anggapan di masyarakat jika kredit sahabat mikro itu adalah hibah. Sehingga mereka merasa kalau dana itu pemberian. Sehingga tanggungjawabnya menjadi rendah.
Redaktur: Usep Mulyana












