JURNALSUKABUMI.COM – Delapan tahun perjalanan Paguyuban Padjadjaran Anyar menjadi bagian dari upaya menjaga jejak budaya Sunda di tengah perubahan zaman.
Melalui semangat “Ngaruat Lembur, Nyukcruk Galur Mapay Laratan, Ngaguar Titinggalan Karuhun dina Ngamumule Adat, Tradisi, jeung Budaya”, paguyuban ini terus mengajak masyarakat mengenali kembali akar sejarah dan nilai leluhur.
Milangkala ke-8 Paguyuban Padjadjaran Anyar yang digelar di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, bukan hanya menjadi perayaan perjalanan organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat komitmen dalam merawat adat dan budaya yang diwariskan para karuhun.
Pangaping Paguyuban Padjadjaran Anyar, Abah Firman Hidayat, mengatakan perjalanan paguyuban selama delapan tahun menjadi bagian dari pengabdian untuk menjaga hubungan manusia dengan alam serta warisan budaya leluhur.
“Semoga di masa mendatang, paguyuban kita semakin tumbuh dalam kesadaran dan pengabdian kepada alam sekitar sebagai bentuk rasa syukur dan tanggung jawab atas anugerah kehidupan,” ujar Abah Firman, Senin (27/7/2026).
Menurutnya, melalui berbagai kegiatan budaya dan penampilan seni tradisional, masyarakat diajak untuk tidak hanya melihat budaya sebagai pertunjukan, tetapi memahami nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.
“Kami hadir dengan hati yang ikhlas untuk memperkenalkan serta melestarikan kekayaan budaya leluhur melalui berbagai penampilan seni tradisional yang penuh makna,” katanya.
Namun, di tengah suasana Milangkala ke-8 tersebut, keluarga besar Paguyuban Padjadjaran Anyar juga menyampaikan keprihatinan atas musibah kebakaran yang menimpa Kasepuhan Kampung Adat Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok.
Abah Firman menyebut musibah tersebut menjadi duka bersama karena dampaknya tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga menyentuh kehidupan masyarakat adat yang telah dibangun secara turun-temurun.
“Api yang tak terkendali bukan hanya meluluhlantakkan bangunan, tetapi juga mengoyak hati mereka yang kehilangan tempat tinggal, kenangan, dan kesejahteraan yang telah lama dibangun,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Sukabumi, Yudi Mulyadi, melalui Fungsional Pamong Budaya Gerry M.H, menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi Paguyuban Padjadjaran Anyar dalam menjaga tradisi Sunda.
Menurut Gerry, delapan tahun bukan waktu yang singkat. Perjalanan tersebut menjadi bukti konsistensi dan istiqomah dalam ngamumule tradisi karuhun Sunda.
“Disbudpora ngahaturkeun wilujeng milad ke-8 tahun kanggo Paguyuban Padjadjaran Anyar. Delapan tahun bukan waktu yang singkat, ini bukti nyata konsisten dan istiqomah ngamumule tradisi karuhun Sunda,” ujar Gerry.
Ia menilai tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut memiliki makna mendalam, khususnya dalam mengingatkan masyarakat Sunda terhadap sejarah, jati diri, dan asal-usulnya.
“Memahami sejarah jati diri serta asal-usul urang selaku urang Sunda, ulah dugika urang poho kapurwadaksian atau pareumeun obor, serta lupa terhadap jati diri dan asal-usul urang Sunda,” katanya.
Menurut Gerry, tantangan pelestarian budaya saat ini semakin besar seiring perkembangan teknologi dan masuknya budaya luar. Kondisi tersebut membutuhkan peran bersama, terutama generasi muda dan komunitas budaya.
“Di era modernisasi tantangannya lebih besar. Budaya luar bisa datang melalui teknologi sehingga budaya kita bisa luntur. Di sini perlu peran kepemudaan dan paguyuban. Pemerintah tidak bisa berjalan bila tidak ada tokoh kepemudaan, paguyuban, dan lainnya,” jelasnya.
Disbudpora Kabupaten Sukabumi, kata Gerry, siap mendukung dan berkolaborasi dengan Paguyuban Padjadjaran Anyar dalam berbagai program kebudayaan.
“Disbudpora siap mendukung dan kolaborasi dengan Padjajaran anyar,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











