JURNALSUKABUMI.COM – Penampilan kolosal menjadi sajian pembuka sebelum Opening Sukabumi Expo 2026 di Lapang Cangehgar, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Kamis malam (10/9/2026).
Pertunjukan tersebut menjadi pembuka rangkaian acara sebelum Sukabumi Expo 2026 resmi dimulai. Sejumlah kesenian dan pertunjukan budaya Sukabumi ditampilkan, mulai dari Perebut Kujang, Awi Hurip atau bambu gila, hingga Bola Seuneu (Boles).
Pembina penampilan kolosal, Abdul Koharulloh, mengatakan setiap pertunjukan yang ditampilkan membawa pesan dan filosofi tersendiri.
Salah satunya Perebut Kujang yang menggambarkan proses pencarian atau pemilihan seorang pemimpin. Konsep tersebut mengambil repertoar pemilihan pemimpin pada masa Pajajaran yang kemudian dikaitkan dengan kehidupan demokrasi saat ini.
“Jadi, Perebut Kujang ini kita menggambarkan proses pencarian pemimpin, gitu. Pemilihan pemimpin atau mungkin kalau misalnya kita korelasikan dengan sekarang di era demokrasi ini, itu kayak pemilihan pemimpin daerah, gitu,” kata Kohar.
Melalui pertunjukan tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa seorang pemimpin harus memiliki kejujuran, keadilan, sekaligus memahami budaya daerah yang dipimpinnya.
“Jadi yang harus kita lakukan ketika kita memilih pemimpin itu yang harus jujur, harus adil, dan mereka itu atau beliau itu tahu tentang budayanya. Karena kekuatan dari satu peradaban adalah budayanya. Ketika budayanya hilang, maka peradaban itu akan hancur,” ujarnya.
Selain Perebut Kujang, penampilan kolosal juga menghadirkan Awi Hurip atau bambu gila.
Menurut Kohar, bambu memiliki filosofi tentang kekuatan dan kemampuan untuk terus tumbuh. Filosofi tersebut kemudian dikaitkan dengan karakter masyarakat Sunda yang harus mampu beradaptasi menghadapi berbagai keadaan.
“Dan bambu ini memberikan contoh kepada orang Sunda yaitu harus lemeus usap leles beubeur, yang artinya harus bisa fleksibel dalam menyikapi banyak hal,” jelasnya.
Sementara Bola Seuneu atau Boles menjadi pertunjukan lainnya yang ditampilkan dalam sajian pembuka tersebut.
Boles merupakan kesenian asli Sukabumi yang menggambarkan kegembiraan masyarakat dalam menyambut terpilihnya pemimpin baru.
“Ini Boles ini kesenian asli Sukabumi, dan ini tuh menggambarkan tentang kebahagiaan masyarakat ketika merayakan terpilihnya pemimpin baru,” katanya.
Setelah penampilan kolosal tersebut, rangkaian acara berlanjut pada Opening Sukabumi Expo 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) ke-156 itu berlangsung mulai 10 hingga 13 September 2026.
Sukabumi Expo 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan. Berbagai produk lokal UMKM hingga hasil pembangunan Kabupaten Sukabumi turut dipamerkan.
Bupati Sukabumi H. Asep Japar mengatakan, hasil pembangunan sengaja ditampilkan agar masyarakat dapat mengetahui berbagai capaian program Pemerintah Kabupaten Sukabumi.
“Hasil hasil pembangunan sengaja kami tampilkan juga di dalam expo ini agar masyarakat mengetahui berbagai capaian program Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Termasuk berbagai produk UMKM,” ungkapnya.
Asep berharap keberadaan expo tersebut dapat menjadi ruang hiburan bagi masyarakat sekaligus mendorong gerakan bela dan beli produk lokal.
Di sisi lain, expo juga diharapkan membuka peluang investasi baru bagi Kabupaten Sukabumi.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Sukabumi Dani Tarsoni mengatakan, Sukabumi Expo 2026 diisi sebanyak 57 stand yang berasal dari berbagai perangkat daerah dan umum.
Dani menyebut pelaksanaan expo tersebut terlaksana melalui kerja sama dengan pihak ketiga sehingga tidak menggunakan APBD.
“Kegiatan ini tidak menggunakan APBD. Semua berkat kerjasama dengan pihak ketiga,” kata Dani.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











