JURNALSUKABUMI.COM – Puluhan ribu buah durian mulai membanjiri kebun-kebun di Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, menjelang Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) Ke – 156. Namun, panen raya yang seharusnya menjadi kabar baik justru membuat petani dihantui persoalan pemasaran dan anjloknya harga.
Petani sekaligus pedagang durian Cikakak, Untung Saputra, mengatakan musim panen kali ini tergolong sangat melimpah. Kondisi tersebut semestinya menjadi momentum bagi pemerintah untuk membuka pasar lebih luas melalui Festival Durian.
Menurut Untung, festival bukan sekadar acara tahunan. Bagi petani, kegiatan tersebut menjadi salah satu pintu untuk mempertemukan hasil kebun dengan konsumen dari luar daerah.
“Panen sekarang sangat melimpah. Di Cikakak hampir puluhan ribu butir durian dipanen. Harapan kami pemerintah mengadakan festival durian seperti tahun-tahun sebelumnya, supaya pemasaran petani bisa lebih diutamakan,” ujar Untung, Sabtu (22/8/2026).
Ia mengungkapkan, persoalan utama yang kini dirasakan petani bukan ketiadaan hasil panen, melainkan bagaimana menjualnya dengan harga yang layak.
Melimpahnya pasokan membuat harga durian ikut tertekan. Sementara tanpa adanya kegiatan yang mampu mendatangkan konsumen dalam jumlah besar, petani harus mencari pasar sendiri agar buah tidak menumpuk di kebun.
“Sekarang pemasaran sangat sulit. Harga juga karena melimpah turun drastis karena tidak adanya festival,” keluhnya.
Untung menyebut Festival Durian di Cikakak terakhir kali digelar sekitar 2024. Setelah itu, agenda yang sebelumnya menjadi ruang promosi durian lokal tersebut tidak lagi dilaksanakan.
“Kalau tidak salah terakhir itu 2024. Berarti sudah dua tahun vakum, dua tahun tidak ada festival lagi,” katanya.
Padahal, menurut Untung, momentum panen durian di Cikakak masih cukup panjang. Saat ini panen baru memasuki tahap kedua dan buah diperkirakan masih akan melimpah hingga dua sampai tiga bulan mendatang.
“Sekarang baru tahap kedua. Bisa sampai tiga bulan ke depan masih banyak, karena masih ada yang berbunga dan masih ada yang mengikat buah,” jelasnya.
Kondisi tersebut sebenarnya membuka peluang besar bagi pemerintah untuk menggelar event yang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memperkuat pemasaran komoditas unggulan daerah.
Menurut Untung, jumlah petani durian di Cikakak juga terus berkembang. Begitu pula dengan jumlah pohon yang ditanam masyarakat.
Ia menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan durian semakin menjadi bagian penting dari aktivitas pertanian masyarakat Cikakak.
“Petani durian Cikakak itu sebetulnya semakin banyak sekarang. Pohon-pohonnya makin banyak, yang punya juga makin banyak, petaninya juga banyak,” ungkapnya.
Pasar dari luar daerah sebenarnya sudah mulai berdatangan. Sejumlah pedagang dan pembeli dari luar kota disebut mulai memburu durian Cikakak secara langsung.
Namun, Untung menilai geliat tersebut masih belum cukup untuk menyerap seluruh hasil panen ketika produksi sedang berada di titik tinggi.
“Kalau ada yang datang memang sekarang banyak yang datang. Cuma ketika tidak ada festival rasanya kurang ramai,” ujarnya.
Untung mengaku telah berkomunikasi dengan pihak yang berkaitan dengan panitia Hari Jadi Kabupaten Sukabumi. Dari komunikasi tersebut, ia mendapat informasi bahwa kegiatan perlu diajukan terlebih dahulu.
Namun, ia mempertanyakan pola tersebut ketika persoalannya sudah menyangkut momentum panen yang berlangsung secara alami setiap tahun.
Menurutnya, pemerintah semestinya dapat membaca kalender panen durian dan menyiapkan agenda promosi sejak jauh-jauh hari, bukan menunggu pengajuan ketika buah sudah membanjiri pasar.
“Kalau durian sudah musim, sebetulnya tidak perlu lagi menunggu pengajuan. Durian itu pasti di bulan delapan, bulan sembilan sampai tahun baru melimpah di daerah Cikakak,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah segera merespons kondisi tersebut dengan menghadirkan Festival Durian, sehingga panen raya tidak berakhir menjadi persoalan baru bagi petani.
“Harusnya segera ditindaklanjuti karena limpahan durian dari Cikakak sekarang makin banyak. Harapan kami ada tanggapan dari pemerintah,” katanya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











