JURNALSUKABUMI.COM – “Allahummagfirlahu, warhamhu, wa’afihi, wa’ fuanhu. Ya Allah ya Rabb, tempatkanlah guru kami, orang tua kami, sahabat kami di tempat termulia di sisi-Mu,” tutur Wakil Ketua IV Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sukabumi, M Taufik.
Ia menilai, sosok Kang Oman, panggilan sehari hari dari para santri dan muridnya. Bagi kalangan santri Almukarrom adalah sosok yang bersahaja dan membumi.
“Bagi murid-muridnya, KH. Dr. Oman Komaruddin bukanlah sekedar sosok Da’i yang sederhana dan tidak mengumbar kata-kata yang mubadzir, tetapi juga merupakan sosok pendidik yang tawadhu, sabar dan telaten dalam membimbing dan mendidik para peserta didik, baik dikalangan santri maupun mahasiswa,” kata M. Taufik.
Lanjut dia, kearifan dan kebijakan Kyai Oman dalam memahami situasi dan kondisi peserta didik, merupakan sebuah pijakan dalam memberikan solusi atas berbagai masalah yang dihadapi. Seringkali Kyai kharismatik itu, selalu memberikan kenyamanan bagi para muridnya.
Bahkan, kesabaran dan ketelatenannya dalam membimbing para santri menjadikan Akang mampu mengarahkan dan membantu berbagai kesulitan para santri dan mahasiswa, tanpa harus mengabaikan kaidah dan proses pendidikan yang harus dilalui oleh setiap murid dan santrinya
Kecerdasan beliau dalam memahami berbagai konsep dan teori, melahirkan pemaparan konsep dan teori keberagamaan (keislaman) yang sederhana dan mudah difahami. Bahkan berbagai konsep dan teori keagamaan yang diajarkannya, senantiasa pula diwujudkan dalam perilaku keseharian yang dapat menjadi bentuk keteladanan yang ditunjukkannya.
Bahkan banyak hal yang nampak kecil yang dicontohkan Kiai Oman, namun sulit untuk diikuti sebagian besar orang. Sebut saja, kemampuan dan kecerdasan emosional beliau, yang selalu menghadirkan senyum penuh ramah, suara yang lemah lembut, tak pernah ada nada tinggi dalam marah dan bentakan dan hardikan Tentunya hal itu memberikan keteduhan dan kenyamanan setiap lawan bicara dan teman dialog beliau.
“Hampir dalam setiap sholat wajib yang dilakukannya secara berjamaah di masjid. Yang teristimewanya selama 20 tahun lebih perjalanan hidupnya terhiasi dengan shaum (puasa) yang tidak sekedar menahan diri dari rasa lapar. Tetapi lebih jauh dari itu, bahkan jauh dari sekedar menahan nafsu dan amarah. Tatakrama dan kesantuan dalam pergaulannya menunjukkan ketinggian akhlaq yang dimilikinya,” tutup M. Taufik.
Redaktur: Usep Mulyana












