JURNALSUKABUMI.COM – Program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, memasuki tahap sosialisasi dan verifikasi validasi data.
Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Provinsi Jabar didampingi Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Mukhkas Arisandi, Ketua RW 03 Maulana Yusuf, RW 04 Oyok Suminta, RW 05 Budi Wahyu dan RW 06 Memed, terjun langsung mendatangi kelompok penerima manfaat untuk mengecek kesiapan pelaksanaan pembangunan.
TFL Provinsi Jabar Guruh Gumilar mengatakan, tujuan dilaksanakannya sosialisasi tersebut untuk memastikan kelompok masyarakat penerima manfaat menerima bantuan dengan syarat – syarat yang ditetapkan pemerintah.
” Para penerima program harus bertanggungjawab atas penggunaan dana bantuan sebesar Rp17,5 juta untuk membeli material bangunan berikut menggalang swadaya masyarakat setempat,” kata Gugum kepada jurnalsukabumi.com, Sabtu (13/2/21).
Sementara itu, Kepala Desa Tegalega Fuad Abdullatif menuturkan, 40 KK yang menjalani proses verifikasi dan validasi data, seluruhnya bisa lolos dan masuk ke dalam kelompok penerima bantuan. Dia juga berharap program bedah rumah warga miskin tersebut tidak terkena refocusing Covid – 19.
” Pokonya ini bukan program PHP di saat pandemi ini. Harapan dan keinginan saya, jumlah kuota penerima bantuan bedah rumah seperti ini, jumlahnya bisa ditambah,” ujarnya.
Keterlibatan unsur pemerintahan dari mulai desa, RT dan RW kata dia, agar kegiatan sosialisasi dan verval ini berjalan secara transparan dan akuntabel.
” Kami ingin semuanya mengetahui dan menyaksikan dari dekat bahwa kegiatan soalisasi ini terus gencar dilakukan supaya program ini berjalan baik dengan memegang prinsip keterbukaan dengan melibatkan semua komponen masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang penerima bantuan RTLH, Euis (40) yang berstatus janda, mengaku senang menerima bantuan pemerintah tersebut. Karena selama ini dia dan keluarganya tinggal dan menetap dalam rumah yang tidak layak huni.
” Kalau musim hujan atap rumah saya banyak yang bocor. Sehingga kalau hujan turun, seisi rumah dipenuhi air. Belum lagi bagian atap rumah yang rapuh dan lapuk. Saya takut sewaktu – waktu ambruk. Saya kan wanita, untuk naik ke atap rumah, saya takut jatuh. Kalau minta tolong ke Tetangga saya tidak punya uang untuk upahnya, ” Kata wanita paruh baya itu.
Reporter: Usep Mulyana | Redaktur: Mohammad Noor












