JURNALSUKABUMI.COM – Anggota DPRD Kota Sukabumi Komisi 2 Fraksi Nasdem, Yudi Esmanto, mengatakan, seorang wakil rakyat dituntut untuk meningkatkan kualitas komunikasi agar lebih mudah dipahami dan dicerna oleh masyarakat.
“Bagi saya bukan soal resesnya, tapi bagaimana kita mampu mengejawantahkan aspirasi masyarakat dengan gaya komunikasi yang sederhana dan mudah dipahami oleh oleh masyarakat,” kata Yudi.
Menurutnya, kegiatan reses itu tidak hanya pada waktu-waktu tertentu. Melainkan menjadi budaya bagi seorang legislator untuk selalu membuka mata dan telinga terhadap nasib masyarakat yang diwakilinya. 
Dalam setiap reses yang dilakukan, masyarakat kerap menyampaikan aspirasi yang berkaitan dengan bidang kesehatan dan kesejahteraan sosial, yang notabene menjadi keinginan dan harapannya.
“Kami ingin fasilitas kesehatan lebih baik, bahkan kalau bisa digratiskan. Dari pemerintah sendiri sudah ada program dengan pelayanan BPJS Penerima Bantuan Iuran (BPJS-BPI) untuk membantu masyarakat tidak mampu,” kata Yudi.
Dia manambahkan, terkait adanya keluhan masyarakat terkait pelayanan kesehatan di RS Al-Muluk, menurutnya, biaya pengobatan telah digratiskan. “Sayangnya, masalah pelayanan maupun medisnya berbeda jauh dari dengan rumah sakit Bunut,” ujarnya.
“Masyarakat itu punya prinsip, bukan mengejar soal gratisnya, tapi yang penting bagaimana caranya keluarga yang sakit bisa cepat sembuh,” ujarnya.
Terkait program Rutilahu di Kampung Babakansirna, semuanya merupakan upaya pemerintahan sendiri akan melakukan survei dilakukan terkait masalah ‘cocokologi’ yang sesuai sesuai data atau tidak.
“Khusus di Kampung Babakansirna ini, rata-rata warga tinggal di lahan PT KAI, jadi tidak bisa terkena program. Terkait rencana program double track, kami sudah berkomunikasi dengan pihak terkait dan alhamdulillah untuk sementara ditangguhkan,” jelasnya.
Redaktur: Usep Mulyana












