Oleh: Raisa Dea Fitrasari, S. E., M. M. (Dosen Politeknik Istikom BCI Sukabumi)
Pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” yang sedang populer menjadi perbincangan, merupakan karya investigatif yang mengangkat realitas sosial di Papua Selatan, khususnya di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Dokumenter ini menyoroti kehidupan masyarakat adat seperti suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang menghadapi ancaman kehilangan tanah adat serta ruang hidup akibat ekspansi industri perkebunan tebu, kelapa sawit, dan proyek food estate berskala besar. Film ini mengingatkan kita pada buku karya George Orwell, Animal Farm. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, keduanya menyampaikan pesan yang serupa: kekuasaan yang tidak didasarkan pada moral dan karakter dapat berubah menjadi alat penindasan.
Dalam Animal Farm, para babi awalnya tampil sebagai pemimpin revolusi yang menjanjikan keadilan dan kesetaraan. Namun, seiring waktu, mereka justru menjadi penindas baru. Slogan “Semua hewan setara, tetapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain” menunjukkan bagaimana bahasa dan kekuasaan dapat dimanipulasi demi kepentingan segelintir elit.
Sementara itu, film dokumenter Pesta Babi menggambarkan bagaimana masyarakat adat dapat tersisih ketika pembangunan berjalan tanpa keadilan dan penghormatan terhadap hak-hak mereka. (Film Pesta Babi: Dokumenter Investigatif yang Menghebohkan Sepanjang 2026) Janji kemajuan tidak selalu selaras dengan perlindungan martabat manusia. Kedua karya tersebut mengajarkan satu hal penting: masalah utama bukan semata-mata sistem, melainkan karakter manusia yang menjalankannya.
Bangsa ini tidak kekurangan orang cerdas. Banyak individu memiliki pendidikan tinggi, jabatan penting, dan akses terhadap sumber daya. Namun, Salam et al., 2024 mengemukakan bahwa kecerdasan tanpa karakter justru dapat melahirkan manipulasi, ketidakjujuran, dan penyalahgunaan wewenang.
Menurut Capri dkk. (2021, hlm. 121–142), Ketika nilai kejujuran, empati, tanggung jawab, dan keadilan tidak ditanamkan sejak dini, seseorang dapat tumbuh menjadi pribadi yang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan dirinya sendiri. Kondisi inilah yang menjadi akar berbagai persoalan sosial, mulai dari keserakahan yang memicu korupsi hingga konflik agraria dan ketimpangan sosial.
Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui teori dan tidak bisa dibangun secara instan. Nilai-nilai tersebut harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rumah, sekolah, hingga masyarakat.
Anak-anak perlu dihargai ketika berkata jujur meskipun sulit, belajar menghargai hak orang lain, bertanggung jawab atas tindakan sendiri, memiliki empati terhadap sesama, dan menolak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Nilai-nilai sederhana ini akan menjadi fondasi moral ketika mereka dewasa dan memegang peran penting dalam masyarakat.
Menurut Lestari (2012, hlm. 1–10), keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak, dan sikap orang tua dalam memperlakukan orang lain akan menjadi contoh yang ditiru dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut kemudian diperkuat di sekolah melalui keteladanan guru dan budaya pendidikan yang sehat, sebagaimana dijelaskan oleh Rifki dkk. (2020, hlm. 1–10). Munib dan Rois (2022, hlm. 1–10) menegaskan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan yang secara konsisten menanamkan integritas akan lebih siap menghadapi godaan kekuasaan dan materi ketika dewasa.
Di samping itu, keluarga dan sekolah juga memiliki peran penting dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal. Tradisi, bahasa daerah, nilai gotong royong, penghormatan kepada orang tua, serta kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi merupakan bagian dari pendidikan karakter yang tidak ternilai. Anak yang mengenal dan mencintai budayanya akan memiliki identitas yang kuat, rasa hormat terhadap akar sejarahnya, serta kesadaran untuk menjaga warisan leluhur. Pelestarian budaya bukan hanya upaya mempertahankan tradisi, tetapi juga sarana untuk membentuk generasi yang berkarakter, berintegritas, dan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur bangsa di tengah arus perubahan zaman.
Pendidikan karakter adalah investasi yang hasilnya mungkin tidak terlihat seketika, tetapi dampaknya sangat besar. Anak-anak yang terbiasa jujur, disiplin, dan peduli akan tumbuh menjadi pemimpin yang tidak mudah mengorbankan kepentingan masyarakat demi kepentingan pribadi.
Jika kita ingin Indonesia yang lebih adil, pembangunan karakter harus dimulai sejak usia dini. Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar generasi mudanya, tetapi juga oleh seberapa kuat karakter mereka. Tanpa karakter, revolusi bisa berubah menjadi penindasan. Dengan karakter, kekuasaan dapat menjadi sarana untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua.
References
(May 13, 2026). Film Pesta Babi: Dokumenter Investigatif yang Menghebohkan Sepanjang 2026. Repelita Online. https://www.repelita.com/post/film-pesta-babi-dokumenter-investigatif-yang-menghebohkan-sepanjang-2026
Gitiyarko, V. (June 27, 2025). Revolusi Peternakan Orwell dan Penindasan Modern. Kompas. https://www.kompas.id/artikel/revolusi-peternakan-orwell-dan-penindasan-modern
Indonesia, K. P. (2026). Statistik Pendidikan Tinggi 2025. Pusdatin Kemdiktisaintek. https://kemdiktisaintek.go.id/library/book/statistik-pendidikan-tinggi-2025
Salam, A. M., Prayetno, B., Usri & Taufiq, M. S. (2024). Tren dan Tantangan Kebijakan Pendidikan Karakter dan Anti Korupsi di Indonesia: Kajian Literatur Sosiologi Agama. SOSIOLOGIA : Jurnal Agama Dan Masyarakat 3(1). https://doi.org/10.35905/sosiologia.v3i1.10895
Capri, W., Cahyati, D. D., Hasanah, M., Prasongko, D. & Prasetyo, W. (2021). Kajian Korupsi sebagai Proses Sosial: Melacak Korupsi di Sektor Sumber Daya Alam di Indonesia. Integritas: Jurnal Antikorupsi 7, pp. 121-142. https://doi.org/10.32697/integritas.v7i1.730
Lestari, B. (2012). Upaya Orang Tua Dalam Pengembangan Kreatifitas Anak. Jurnal Ekonomi dan Pendidikan 31, pp. 1-10. https://doi.org/10.21831/jep.v3i1.629
Rifki, M., Sauri, S., Abdussalam, A., Supriadi, U. & Parid, M. (2020). Internalisasi Nilai-Nilai Karakter melalui Metode Keteladanan Guru di Sekolah. Jurnal Basicedu 7(1), pp. 1-10. https://doi.org/10.31004/basicedu.v7i1.4274
Munib, A. & Rois, N. (2022). Peran Ekstrakurikuler Keagamaan dalam Membentuk Karakter Integritas Siswa di SD Al-Khairiyyah Kota Tegal Tahun Pelajaran 2021/2022. Jurnal Progress: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas 10(2), pp. 1-10. https://doi.org/10.31942/pgrs.v10i2.7708
Hartati, Y. L. (2023). Analisis Dampak Pendidikan Karakter Terhadap Perkembangan Sosial Dan Emosional Siswa. Jurnal Multidisiplin Indonesia 27. https://doi.org/10.58344/jmi.v2i7.310












