Oleh: Elis Sajaah, S.Pd., M.Pd.,CIM (Kabid Pemenuhan Hak Anak (PHA) DP3A Kabupaten Sukabumi).
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai momentum mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini. Namun bagi sebagian perempuan, peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia hidup sebagai nilai, sebagai napas panjang keberanian untuk terus bertumbuh-bahkan ketika usia dan fase kehidupan telah berubah.
Bagi seorang aparatur sipil negara (ASN) yang kini berada di ambang purna tugas, Kartini menjelma dalam bentuk yang lebih sunyi namun dalam. Bukan lagi tentang perlawanan terhadap batasan formal, melainkan tentang kesediaan untuk terus belajar dan memberi makna, tanpa terikat oleh jabatan.
“Kartini tidak pernah membatasi mimpi pada usia, ruang, atau keadaan,” tuturnya. Kalimat itu bukan sekadar refleksi, melainkan prinsip hidup yang kini semakin terasa relevan. Di tengah keterbatasan zamannya, Kartini menyalakan cahaya. Dan hari ini, cahaya itu hadir dalam bentuk yang sederhana: semangat untuk terus bertumbuh dan memberi arti.
Beberapa bulan ke depan, masa tugasnya sebagai ASN akan resmi berakhir. Namun, ia menolak memaknai purna tugas sebagai titik akhir. Justru sebaliknya, ia melihatnya sebagai awal dari medan juang yang baru -lebih luas, lebih bebas, dan lebih manusiawi.
“Jika dulu langkah saya terikat pada jabatan, kini ia menjadi lebih merdeka,” ujarnya. Kemerdekaan itu bukan tanpa arah, melainkan diarahkan untuk menjangkau hal-hal yang lebih esensial: menyentuh hati, menengahi konflik, serta menghadirkan keadilan dengan pendekatan yang lebih empatik.
Dalam fase kehidupan ini, menjadi perempuan bukan lagi tentang pembuktian diri, tetapi tentang penerimaan dan pelampauan. Ia merangkul pengalaman panjang yang telah dilalui, tanpa kehilangan keberanian untuk terus menumbuhkan harapan baru.
Di setiap langkah kecil yang ia jaga, semangat Kartini hadir secara diam-diam, namun kuat. Sebuah keyakinan sederhana tetapi mendalam: bahwa perempuan, kapan pun usianya, tetap memiliki hak untuk bermimpi, belajar, dan memberi arti.
Hari Kartini, pada akhirnya, bukan hanya milik masa lalu. Ia hidup di masa kini – dalam diri perempuan-perempuan yang terus berjalan, bahkan ketika dunia mengira mereka telah selesai. (*).












