Semangat Kartini yang Tak Pernah Usai di Ujung Pengabdian

Selasa, 21 April 2026 - 19:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Elis Sajaah, S.Pd., M.Pd.,CIM (Kabid Pemenuhan Hak Anak (PHA) DP3A Kabupaten Sukabumi).

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai momentum mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini. Namun bagi sebagian perempuan, peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia hidup sebagai nilai, sebagai napas panjang keberanian untuk terus bertumbuh-bahkan ketika usia dan fase kehidupan telah berubah.

Bagi seorang aparatur sipil negara (ASN) yang kini berada di ambang purna tugas, Kartini menjelma dalam bentuk yang lebih sunyi namun dalam. Bukan lagi tentang perlawanan terhadap batasan formal, melainkan tentang kesediaan untuk terus belajar dan memberi makna, tanpa terikat oleh jabatan.

“Kartini tidak pernah membatasi mimpi pada usia, ruang, atau keadaan,” tuturnya. Kalimat itu bukan sekadar refleksi, melainkan prinsip hidup yang kini semakin terasa relevan. Di tengah keterbatasan zamannya, Kartini menyalakan cahaya. Dan hari ini, cahaya itu hadir dalam bentuk yang sederhana: semangat untuk terus bertumbuh dan memberi arti.

Beberapa bulan ke depan, masa tugasnya sebagai ASN akan resmi berakhir. Namun, ia menolak memaknai purna tugas sebagai titik akhir. Justru sebaliknya, ia melihatnya sebagai awal dari medan juang yang baru -lebih luas, lebih bebas, dan lebih manusiawi.

“Jika dulu langkah saya terikat pada jabatan, kini ia menjadi lebih merdeka,” ujarnya. Kemerdekaan itu bukan tanpa arah, melainkan diarahkan untuk menjangkau hal-hal yang lebih esensial: menyentuh hati, menengahi konflik, serta menghadirkan keadilan dengan pendekatan yang lebih empatik.

Dalam fase kehidupan ini, menjadi perempuan bukan lagi tentang pembuktian diri, tetapi tentang penerimaan dan pelampauan. Ia merangkul pengalaman panjang yang telah dilalui, tanpa kehilangan keberanian untuk terus menumbuhkan harapan baru.

Di setiap langkah kecil yang ia jaga, semangat Kartini hadir secara diam-diam, namun kuat. Sebuah keyakinan sederhana tetapi mendalam: bahwa perempuan, kapan pun usianya, tetap memiliki hak untuk bermimpi, belajar, dan memberi arti.

Hari Kartini, pada akhirnya, bukan hanya milik masa lalu. Ia hidup di masa kini – dalam diri perempuan-perempuan yang terus berjalan, bahkan ketika dunia mengira mereka telah selesai. (*).

Berita Terkait

Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Penguatan Semangat Membangun, Ini Pesan Ketua PWI Sukabumi
Dari Game ke Empati: Pengaruh Pembatasan Bermain Game Online terhadap Kecerdasan Emosional Anak
Pesta Babi, Animal Farm, dan Cermin Masa Depan Bangsa
Pelemahan Rupiah dan Mendesaknya Penetapan RUU Migas
Kemudahan yang Menjerat: Krisis Pengelolaan Keuangan di Era Pinjaman Cepat
Menjemput Berkah di Tengah Badai Geopolitik: Jihad Ekonomi, Budaya, dan Spiritual Kabupaten Sukabumi
Di Balik Senyum Siswa Sukabumi: Rasa Syukur atas Kehadiran Heri Gunawan
Lingkaran Setan di Kawasan Industri: Saat ATM Buruh Berpindah ke “Koperasi” Darah

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 11:52 WIB

Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Penguatan Semangat Membangun, Ini Pesan Ketua PWI Sukabumi

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:39 WIB

Dari Game ke Empati: Pengaruh Pembatasan Bermain Game Online terhadap Kecerdasan Emosional Anak

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:55 WIB

Pesta Babi, Animal Farm, dan Cermin Masa Depan Bangsa

Sabtu, 16 Mei 2026 - 12:57 WIB

Pelemahan Rupiah dan Mendesaknya Penetapan RUU Migas

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:17 WIB

Kemudahan yang Menjerat: Krisis Pengelolaan Keuangan di Era Pinjaman Cepat

Berita Terbaru