JURNALSUKABUMI.COM – Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Sukabumi terus berkomitmen melestarikan situs-situs bersejarah sebagai bagian dari penguatan identitas budaya daerah. Salah satunya adalah Situs Bunker Jepang Pos Pengintai Pinangjajar yang terletak di Kampung Pinangjajar, Desa Sukamukti, Kecamatan Waluran.
Struktur beton peninggalan era Perang Dunia II ini menjadi saksi bisu masa penjajahan Jepang dan pernah difungsikan sebagai titik pengawasan strategis militer Jepang di pesisir selatan Jawa Barat.
Kepala Disbudpora Kabupaten Sukabumi, Yudi Mulyadi, menegaskan bahwa keberadaan situs ini merupakan warisan sejarah yang sangat penting dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukatif.
“Letaknya sangat strategis. Dari bunker ini, militer Jepang bisa memantau jalur laut dan pergerakan di darat. Ini bagian dari sistem pertahanan mereka yang dirancang dengan sangat matang,” jelas Yudi.
Bunker ini berdimensi tinggi sekitar 2 meter, panjang 7 meter, lebar 3 meter, dan kedalaman sekitar 6 meter. Terdapat pula ruang tambahan sedalam 3 meter yang diyakini sebagai pusat komunikasi atau perlindungan dari serangan udara.
Lokasinya yang berada di jalur Ciletuh–Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGGp) menjadi nilai tambah, karena bisa terintegrasi dengan wisata geopark yang sudah dikenal internasional.
“Dengan narasi sejarah yang kuat dan lokasi yang menarik, situs ini sangat potensial menjadi destinasi wisata budaya dan edukasi,” imbuh Yudi.
Sejak tahun 2018, Disbudpora telah melakukan penataan awal di area situs, seperti pembangunan akses jalan, pemasangan papan informasi, dan penyediaan gerbang masuk. Semua langkah ini diiringi dengan pendekatan edukatif, agar pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga memahami nilai historis bangunan tersebut.
“Kami ingin generasi muda belajar dari sejarah, karena pemahaman masa lalu adalah fondasi pembangunan masa depan,” ujar Yudi.
Disbudpora juga melibatkan warga sekitar dan komunitas lingkungan dalam aksi penghijauan, menanam pohon-pohon pelindung untuk menciptakan suasana yang asri sekaligus memperkuat daya dukung ekologis kawasan.
Selain Pinangjajar, terdapat tiga titik bunker lain yang teridentifikasi di wilayah Desa Sukamukti. Namun, saat ini baru situs Pinangjajar yang telah ditata dan dibuka untuk umum. Kunjungan ke lokasi ini tidak dipungut biaya, namun pengunjung diimbau menjaga kebersihan dan tidak merusak struktur bangunan.
“Situs ini bisa dijadikan laboratorium sejarah terbuka, baik untuk pelajar, mahasiswa, maupun peneliti. Kami di Disbudpora siap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan potensi edukatifnya,” tandas Yudi.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan












