JURNALSUKABUMI.COM – Di tengah lereng hijau Gunung Halimun Salak, tepatnya di Desa Cihamerang dan Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, tersembunyi kampung-kampung adat yang masih setia menjaga jejak Kabuyutan Sunda Kuno.
Meskipun tidak sepopuler Ciptagelar, kampung adat di wilayah ini menyimpan kekayaan budaya yang tak ternilai. Kampung Pameungpeuk Legok, Cibeureum, dan Darmaga menjadi saksi hidup perjalanan peradaban Sunda yang menolak punah di tengah arus modernisasi.
Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Sukabumi melihat potensi besar dari kampung-kampung ini dalam mendukung pelestarian budaya lokal sekaligus menjadi titik strategis pemberdayaan generasi muda berbasis kearifan lokal.
Kepala Disbudpora Kabupaten Sukabumi, Yudi Mulyadi, menyatakan bahwa keberadaan kampung adat Kabandungan adalah kekayaan budaya yang patut dijaga dan diberdayakan melalui pendekatan kolaboratif.
“Kampung adat seperti ini bukan hanya warisan leluhur, tapi juga laboratorium hidup pendidikan karakter bagi generasi muda. Kami akan terus mendorong pendokumentasian, edukasi budaya, dan penguatan kelembagaan adat sebagai bagian dari strategi pembangunan berbasis budaya,” tegas Yudi belum lama ini.
Disbudpora berkomitmen untuk memasukkan kampung adat Kabandungan dalam peta program strategis kebudayaan daerah. Pendekatan integratif juga akan dilakukan melalui penguatan event budaya seperti Seren Taun, pelatihan seni tradisional untuk pemuda, dan promosi wisata budaya yang berbasis komunitas.
Berbeda dari kampung adat yang cenderung eksklusif, komunitas adat di Kabandungan bersifat inklusif dan telah berbaur dengan masyarakat umum. Namun, tradisi utama seperti menanam padi satu kali setahun dan partisipasi dalam Seren Taun Ciptagelar masih terus dijalankan.
Meski sebagian arsitektur rumah sudah modern, leuit (lumbung padi) masih ditemukan sebagai simbol penting budaya agraris. Kampung-kampung ini kini menjadi contoh harmonisasi antara modernisasi dan kearifan lokal.
Sebagian besar penduduk kampung adat Kabandungan bertani di tanah mitra milik Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Disbudpora dalam menyusun program pelatihan dan kewirausahaan berbasis pertanian adat dan ekowisata.
“Kami ingin generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya. Melalui pelibatan pemuda dalam pelestarian adat, seni, dan budaya, kita bisa mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kuat secara identitas,” tambah Yudi.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan












