JURNALSUKABUMI.COM – Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi, Sudrajat, angkat bicara terkait kenaikan harga kacang kedelai semenjak pertengahan bulan puasa hingga saat ini. Hal tersebut disebabkan keterlambatan proses pendistribusian dari negara produsen ke Indonesia akibat pandemi Covid-19.
Sudrajat menjelaskan, keterlambatan distribusi kedelai impor terjadi dua hingga tiga pekan. Saat ini, pemenuhan kebutuhan bahan baku tempe itu masih mengandalkan impor.
“Dulu impor itu dari Amerika ke Indonesia yaitu tiga minggu sekali, namun sampai sekarang proses pengiriman tujuh sampai sembilan minggu kapal impor itu baru mendarat di Indonesia. Makanya pasti harga kedelai naik,” kata Sudrajat Kepada jurnalsukabumi.com, Rabu (2/06/2021).
Kebutuhan kedelai di Indonesia sambung dia, dipenuhi melalui impor dari negara produsen yakni Amerika, Brazil dan Argentina. Stok kedelai du dalam negeri bergantung pada arus impor.
“Alasan kedua kenapa sulitnya impor, sekarang Tiongkok yang ingin mendominasi sebagian impor ke Indonesia, maka negara-negara lain tidak kebagian. Sebetulnya yang paling bahaya itu produsen kedelai di dunia kemungkinan tidak menjual kedelainya, itu yang berbahaya,” jelasnya.
Sudrajat menjelaskan, sebetulnya Sukabumi sendiri sempat mengembangkan produsen kedelai di beberapa wilayah. Namun akibat tidak ada ketersediaan benih, sehingga pengembangan tersebut terhenti.
“Sebetulnya kita sudah kembangkan, sampai awal bulan Juni ini harusnya 4.000 hektar. Di awal Februari Maret harusnya sudah 3.000 hektar tapi benihnya tidak ada karena Indonesia sendiri yang paling sulit itu belum ada industri benih,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Mohammad Noor












