JURNALSUKABUMI.COM – Di saat sebagian orang menanti hujan dari balik jendela, Mang Kuyil justru memikul puluhan liter air setiap hari demi menjaga harapan hidup keluarganya.
Bagi petani asal Desa Mekarjaya, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi itu, setiap tetes air adalah penentu hidup matinya tanaman cabai yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan.
Kemarau panjang yang melanda wilayah selatan Sukabumi membuat lahan pertanian mulai mengering. Tanpa saluran irigasi dan tanpa mesin pompa air, Mang Kuyil hanya mengandalkan tenaga sendiri untuk menyelamatkan kebun cabai caplak miliknya.
Berbekal izin dari Camat Cidolog, ia mengambil air dari keran sumber air di wilayah kecamatan. Air tersebut diangkut menggunakan sepeda motor dengan jeriken dan galon. Namun perjuangan belum selesai. Setibanya di titik terdekat kebun, air kembali dipanggul satu per satu melewati jalan setapak dan lereng menuju lahan tanam.
Rutinitas itu dijalani dua kali setiap hari, seusai salat Subuh dan kembali menjelang sore. Aktivitas berat tersebut telah dilakukan tanpa henti selama sekitar satu setengah bulan.
“Kami paham betul betapa sulitnya mengajukan permohonan bantuan ke Dinas Pertanian. Kami tahu ada keterbatasan anggaran, prosedurnya pun tak mudah bagi kami yang awam. Tapi untuk menyambung hidup, hal ini harus dilakukan. Tak ada jalan lain, tak boleh menyerah sampai tanaman ini berbuah,” ujar Mang Kuyil, Jumat (17/7/2026).
Pundaknya mulai lecet karena terus memikul beban. Tenaganya terkuras setiap hari. Namun rasa lelah itu seolah tak berarti dibandingkan kekhawatiran jika tanaman cabainya mati sebelum panen.
Baginya, cabai bukan sekadar komoditas pertanian. Tanaman itu menjadi penopang ekonomi keluarga. Gagal panen berarti hilangnya harapan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kisah Mang Kuyil ternyata bukan satu-satunya. Sejumlah petani lain di Desa Mekarjaya mengalami kondisi serupa. Mereka juga berjibaku melawan kemarau dengan kemampuan seadanya. Sebagian memilih bertahan dalam diam, tanpa banyak mengeluhkan kesulitan yang dihadapi.
Di tengah berbagai program penguatan ketahanan pangan, para petani berharap perhatian juga hadir dalam bentuk solusi nyata di lapangan. Akses terhadap sumber air, bantuan sarana irigasi, maupun pompa air dinilai jauh lebih mendesak dibanding sekadar wacana.
Kini, di tengah kebun yang mulai mengering, tersimpan satu harapan sederhana dari Mang Kuyil. Ia berharap suatu hari dapat memiliki mesin pompa air agar tidak lagi mengandalkan tenaga untuk memikul air ke lereng kebun.
“Bagi petani kecil seperti saya, sebuah pompa air bukan sekadar alat pertanian, melainkan penyambung harapan agar tanaman cabai tetap hidup, panen tetap datang, dan dapur keluarga tetap mengepul,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











