JURNALSUKABUMI.COM – Di balik bisingnya arus lalu lintas jalan raya nasional yang terhimpit dua tebing curam di kawasan Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, tersimpan lembaran sejarah keberanian yang sangat luar biasa.
Di tempat inilah, puluhan tahun silam tepatnya pada 9-12 Desember 1945 barisan pejuang rakyat bersama tentara muda bernyali besar, nekat mempertaruhkan nyawa demi mengadang dan menahan laju pasukan Sekutu yang melintas.
Kisah pertempuran berdarah ini tercatat rapi dalam buku karya sastrawan legendaris asal Jawa Barat, Tatang Sumarsono. Ia menggambarkan betapa mencekamnya bumi Sukabumi saat itu, ketika para pejuang menggempur tentara Sekutu habis-habisan di jalur Bojongkokosan.
Suasana Mencekam dan Modal Nekat Pejuang
Informasi yang dihimpun, suasana di Sukabumi kala itu mendadak tegang setelah beredar kabar bahwa pasukan Sekutu yang didampingi NICA (Netherlands Indies Civil Administration) bergerak dari arah utara. Mereka berniat menguasai jalan raya dan wilayah strategis hingga ke jantung Kota Sukabumi.
Menyadari ancaman besar tersebut, para pejuang dari berbagai kesatuan, bersama pemuda dan warga setempat, langsung bersatu padu. Mereka bertekad menggempur musuh yang nekat melewati wilayah tersebut.
Persiapan pun dilakukan dengan segala keterbatasan. Tanpa adanya benteng kokoh atau perlengkapan perang yang lengkap, para pejuang memanfaatkan kelebihan yang mereka miliki, yakni pengetahuan medan dan semangat yang membara.
Di sepanjang jalan dan di pinggir bukit Bojongkokosan, mereka membuat parit pertahanan sederhana, menebang pohon besar untuk penghalang jalan, hingga menyiapkan pos pengamatan. Senjata yang dibawa pun sangat beragam dan seadanya; mulai dari senapan tua, parang, hingga bambu runcing. Namun di dada mereka, tertanam semangat mati syahid.
Pertempuran Pecah, Hujan Peluru di Sela Tebing
Pertempuran hebat akhirnya meletus pada pagi hari. Pasukan Sekutu yang bergerak dengan kendaraan lapis baja dan persenjataan mutakhir, awalnya mengira perjalanan mereka akan berjalan mulus tanpa hambatan.
Namun dugaan mereka keliru besar. Tepat saat rombongan militer tersebut memasuki kawasan Bojongkokosan, hujan tembakan sambutan langsung meluncur bertubi-tubi dari balik pepohonan dan perbukitan. Serangan mendadak itu membuat musuh terkejut dan terhenti seketika.
Pasukan Sekutu yang terbiasa berhadapan dengan formasi perang konvensional, dibuat kewalahan menghadapi taktik gerilya “siluman” yang dijalankan para pejuang Sukabumi.
Suara dentuman meriam dan letusan senjata bergema hebat memecah kesunyian bukit Bojongkokosan. Asap hitam dan debu mesiu mengepul pekat di udara. Meski musuh membalas dengan tembakan yang jauh lebih dahsyat dan menghujani pertahanan dengan peluru tajam, para pejuang tidak bergeming sedikit pun.
Mereka bertempur dengan cerdik, bergerak dari satu tempat ke tempat lain agar tidak mudah disasar. Banyak di antara mereka yang gugur bersimbah darah, namun tidak ada satu pun yang mundur atau meninggalkan posnya.
Tragedi Pos Terdepan dan Amunisi Habis
Ada kisah yang sangat melekat di ingatan warga tentang sekelompok kecil pejuang yang bertahan di pos terdepan. Saat amunisi mereka habis dan musuh mulai mendekat, mereka tidak lari menyelamatkan diri. Sebaliknya, mereka justru maju menerjang peluru membawa senjata tajam dan bambu runcing untuk melakukan serangan jarak dekat yang mengerikan.
Keteguhan mereka membuat laju pasukan Sekutu tertahan hingga berjam-jam. Penundaan itu sangat berharga, karena memberi waktu bagi warga desa untuk mengamankan diri ke tempat yang lebih aman, serta bagi pasukan induk untuk menata pertahanan di wilayah selanjutnya.
Menjelang sore, pasukan Sekutu akhirnya berhasil menerobos masuk, namun dengan harga yang sangat mahal. Mereka kehilangan banyak prajurit dan kendaraan tempur, serta menyadari bahwa menguasai tanah Parungkuda bukanlah hal yang mudah. Di sisi lain, para pejuang yang tersisa mundur secara teratur ke pedalaman, membawa kenangan pertempuran dan nama-nama rekan yang gugur di tanah Bojongkokosan.
Edukasi Sejarah bagi Generasi Penerus
Hingga kini, cerita tentang keberanian mengadang Sekutu itu masih hidup di kalangan warga. Bojongkokosan bukan sekadar nama tempat, melainkan monumen hidup perlawanan rakyat. Setiap jengkal tanah di sini pernah menjadi saksi keberanian pemuda-pemuda yang memilih bertaruh nyawa daripada kembali hidup di bawah belenggu penjajahan.
Pertempuran itu kini tergambar begitu jelas di miniatur beserta persenjataan yang dipajang di Museum dan Perpustakaan Bojongkokosan, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Sejarah ini mengingatkan kembali bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang dan tetesan darah para pejuang yang rela mengorbankan nyawanya.
Hal inilah yang mendasari Rahilah dan Dewi, selaku guru Sekolah Dasar (SD), sengaja mengajak anak didiknya berkunjung ke Monumen Bersejarah Bojongkokosan. Menurut mereka, sangat penting bagi generasi penerus untuk meneladani semangat perjuangan para pahlawan.
“Kami sengaja membawa mereka ke sini supaya tahu tentang sejarah Bojongkokosan, dengan harapan tumbuh jiwa patriot pada anak-anak didik kami,” ujar Rahilah kepada Jurnalsukabumi.com, Kamis (04/06/2026).
Reporter: CR24 | Redaktur: Ujang Herlan












