JURNALSUKABUMI.COM – Musim kemarau kembali menjadi ujian berat bagi para petani di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi. Di tengah semangat meningkatkan produksi pangan, banyak petani justru dihadapkan pada persoalan paling mendasar, yakni sulitnya mendapatkan air untuk mempertahankan tanaman mereka tetap hidup.
Di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cidolog, misalnya, sejumlah petani harus mengangkut air dari sumber yang jauh menggunakan sepeda motor. Setelah itu, air masih harus dipikul melewati jalan setapak hingga lereng kebun untuk menyiram tanaman cabai yang mulai mengering.
Perjuangan tersebut bukan hanya dilakukan oleh satu orang. Banyak petani menjalani rutinitas serupa setiap hari agar tanaman yang menjadi sumber penghidupan keluarga tidak mati sebelum masa panen.
Salah seorang petani, Mang Kuyil, mengatakan kondisi itu terpaksa dilakukan karena mereka tidak memiliki sarana pengairan yang memadai.
“Kami paham pemerintah punya keterbatasan anggaran. Tapi tanaman tidak bisa menunggu. Kalau tidak disiram, habis semua. Mau tidak mau kami angkut air sendiri,” ujarnya, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, para petani sebenarnya tidak berharap bantuan yang rumit ataupun bersifat sesaat. Mereka lebih membutuhkan sarana yang mampu digunakan dalam jangka panjang, salah satunya mesin pompa air.
“Dengan adanya pompa air, sumber air yang masih tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih efektif sehingga petani tidak lagi menghabiskan tenaga hanya untuk mengangkut air menuju lahan,” terangnya.
Harapan tersebut juga mewakili banyak petani lain yang menghadapi kondisi serupa. Kemarau membuat lahan mulai retak, sementara biaya produksi terus meningkat. Di sisi lain, hasil panen menjadi satu-satunya sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pertanian bukan hanya soal benih, pupuk, atau harga hasil panen. Ketersediaan air menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan musim tanam, terutama ketika kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya.
“Bagi para petani, keberadaan pompa air akan memberikan manfaat yang jauh lebih luas. Selain menghemat tenaga dan waktu, alat tersebut memungkinkan penyiraman dilakukan secara lebih rutin sehingga produktivitas lahan tetap terjaga,” tuturnya.
Perlu diketahui, Di tengah berbagai program penguatan ketahanan pangan, kebutuhan terhadap infrastruktur pengairan sederhana dinilai menjadi perhatian yang tidak kalah penting. Sebab tanpa air, benih unggul, pupuk, hingga kerja keras petani tidak akan mampu menghasilkan panen yang maksimal.
“Kini, harapan para petani di Cidolog bukanlah sesuatu yang muluk. Mereka hanya ingin memiliki akses air yang lebih mudah agar tetap bisa menanam, memanen, dan mempertahankan mata pencaharian mereka,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











