JURNALSUKABUMI.COM – Di tengah gencarnya program ketahanan pangan, ironi justru dirasakan warga Dusun Cikadu dan Dusun Pasir Biru, Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.
Sudah 17 tahun Daerah Irigasi (DI) Citarik (Somang Cikadu) terbengkalai. Akibatnya, ratusan hektare lahan pertanian kehilangan sumber air, sementara warga terpaksa menggali sumur di bekas saluran irigasi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saluran yang dahulu mengalirkan air kini berubah menjadi cekungan dangkal. Saat kemarau, sumur-sumur darurat di bekas jalur irigasi menjadi satu-satunya sumber air. Ironisnya, ketika musim hujan tiba, sumur tersebut justru dipenuhi sampah dan lumpur yang terbawa aliran air.
Salah satu masyarakat, Ujang Sunandi, mengatakan kondisi tersebut sudah terlalu lama dibiarkan tanpa kepastian.
“Selama 17 tahun lebih kami seperti anak tiri. Kami tidak bisa mandi, tidak bisa mendapatkan air bersih. Yang tidak mampu membeli air PAM terpaksa membuat sumur di bekas irigasi. Padahal air itu sebenarnya tidak layak dikonsumsi karena berasal dari resapan lingkungan,” ujarnya, Minggu (19/7/2026).
Menurutnya, dampak terbesar dirasakan sektor pertanian. Sekitar 163 hektare lahan yang dahulu produktif kini berubah menjadi sawah tadah hujan. Petani hanya bisa menunggu datangnya hujan untuk mulai bercocok tanam.
“Yang paling dirugikan adalah petani. Dulu sawah ini bisa ditanami padi, sekarang hanya mengandalkan hujan. Kalau kemarau panjang, tidak menghasilkan apa-apa,” katanya.
Diketahui, panjang jaringan irigasi sendiri kurang lebih mencapai sekitar empat kilometer dan menjadi sumber pengairan bagi dua kedusunan, yakni Dusun Cikadu dan Dusun Pasir Biru.
Lebih jauh lagi, aliran tersebut sebenarnya menjadi bagian penting bagi daerah hilir yang mengarah ke wilayah Desa Citarik hingga Desa Jayanti.
“Kalau hulunya tidak berfungsi, daerah bawah juga ikut terdampak. Jadi bukan hanya Desa Cikadu yang merasakan kerugian, tetapi sampai ke desa-desa lain yang selama ini bergantung pada aliran air tersebut,” ujarnya.
Akibat tidak adanya pasokan air, bentang alam pertanian pun berubah drastis. Sawah yang dulu dipenuhi tanaman padi kini berganti menjadi kebun pisang, pohon sengon, dan tanaman keras lainnya karena dianggap lebih mampu bertahan di tengah kekeringan.
“Kalau dulu mayoritas menanam padi dan sayuran. Sekarang sawah berubah menjadi kebun. Bahkan bentuk saluran irigasinya sudah nyaris tidak terlihat karena dangkal dan tertutup tanah,” katanya.
Kepala Dusun Cikadu, Mamat menjelaskan upaya warga menggali sumur di luar jalur bekas irigasi hampir selalu gagal. Meski digali hingga kedalaman tertentu, air sulit ditemukan. Kondisi ini membuat bekas aliran irigasi menjadi satu-satunya lokasi yang masih memiliki cadangan air, meski kualitasnya jauh dari layak.
Di sisi lain, saat musim hujan datang, persoalan berubah. Saluran yang dangkal tidak mampu menampung debit air sehingga kawasan sekitar lebih mudah tergenang dan dipenuhi endapan sampah.
“Masyarakat berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat segera turun tangan merehabilitasi DI Citarik (Somang Cikadu) yang telah terbengkalai hampir dua dekade,” ucap Mamat.
Bagi warga, perbaikan irigasi bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi menjadi harapan.
“Irigasi ini untuk menghidupkan kembali sawah, mengembalikan pasokan air bersih, serta menggerakkan roda ekonomi ratusan keluarga petani yang selama 17 tahun bertahan di tengah keterbatasan,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











