17 Tahun Irigasi Terbengkalai, Sawah Hilang, Warga Cikadu Gali Sumur di Bekas Saluran Air Demi Bertahan Hidup

Minggu, 19 Juli 2026 - 16:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Di tengah gencarnya program ketahanan pangan, ironi justru dirasakan warga Dusun Cikadu dan Dusun Pasir Biru, Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

Sudah 17 tahun Daerah Irigasi (DI) Citarik (Somang Cikadu) terbengkalai. Akibatnya, ratusan hektare lahan pertanian kehilangan sumber air, sementara warga terpaksa menggali sumur di bekas saluran irigasi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saluran yang dahulu mengalirkan air kini berubah menjadi cekungan dangkal. Saat kemarau, sumur-sumur darurat di bekas jalur irigasi menjadi satu-satunya sumber air. Ironisnya, ketika musim hujan tiba, sumur tersebut justru dipenuhi sampah dan lumpur yang terbawa aliran air.

Salah satu masyarakat, Ujang Sunandi, mengatakan kondisi tersebut sudah terlalu lama dibiarkan tanpa kepastian.

“Selama 17 tahun lebih kami seperti anak tiri. Kami tidak bisa mandi, tidak bisa mendapatkan air bersih. Yang tidak mampu membeli air PAM terpaksa membuat sumur di bekas irigasi. Padahal air itu sebenarnya tidak layak dikonsumsi karena berasal dari resapan lingkungan,” ujarnya, Minggu (19/7/2026).

Menurutnya, dampak terbesar dirasakan sektor pertanian. Sekitar 163 hektare lahan yang dahulu produktif kini berubah menjadi sawah tadah hujan. Petani hanya bisa menunggu datangnya hujan untuk mulai bercocok tanam.

“Yang paling dirugikan adalah petani. Dulu sawah ini bisa ditanami padi, sekarang hanya mengandalkan hujan. Kalau kemarau panjang, tidak menghasilkan apa-apa,” katanya.

Diketahui, panjang jaringan irigasi sendiri kurang lebih mencapai sekitar empat kilometer dan menjadi sumber pengairan bagi dua kedusunan, yakni Dusun Cikadu dan Dusun Pasir Biru.

Lebih jauh lagi, aliran tersebut sebenarnya menjadi bagian penting bagi daerah hilir yang mengarah ke wilayah Desa Citarik hingga Desa Jayanti.

“Kalau hulunya tidak berfungsi, daerah bawah juga ikut terdampak. Jadi bukan hanya Desa Cikadu yang merasakan kerugian, tetapi sampai ke desa-desa lain yang selama ini bergantung pada aliran air tersebut,” ujarnya.

Akibat tidak adanya pasokan air, bentang alam pertanian pun berubah drastis. Sawah yang dulu dipenuhi tanaman padi kini berganti menjadi kebun pisang, pohon sengon, dan tanaman keras lainnya karena dianggap lebih mampu bertahan di tengah kekeringan.

“Kalau dulu mayoritas menanam padi dan sayuran. Sekarang sawah berubah menjadi kebun. Bahkan bentuk saluran irigasinya sudah nyaris tidak terlihat karena dangkal dan tertutup tanah,” katanya.

Kepala Dusun Cikadu, Mamat menjelaskan upaya warga menggali sumur di luar jalur bekas irigasi hampir selalu gagal. Meski digali hingga kedalaman tertentu, air sulit ditemukan. Kondisi ini membuat bekas aliran irigasi menjadi satu-satunya lokasi yang masih memiliki cadangan air, meski kualitasnya jauh dari layak.

Di sisi lain, saat musim hujan datang, persoalan berubah. Saluran yang dangkal tidak mampu menampung debit air sehingga kawasan sekitar lebih mudah tergenang dan dipenuhi endapan sampah.

“Masyarakat berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat segera turun tangan merehabilitasi DI Citarik (Somang Cikadu) yang telah terbengkalai hampir dua dekade,” ucap Mamat.

Bagi warga, perbaikan irigasi bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi menjadi harapan.

“Irigasi ini untuk menghidupkan kembali sawah, mengembalikan pasokan air bersih, serta menggerakkan roda ekonomi ratusan keluarga petani yang selama 17 tahun bertahan di tengah keterbatasan,” tandasnya.

Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan 

Berita Terkait

Resmi Dilantik, Kang Sule Kembali Pimpin SMSI Sukabumi Raya 2025–2028
Parah! Antrean Truk di SPBU Cibadak Kuasai Bahu Jalan, Pengendara Premium Terjebak
Dihantam Botol dan Batu Gegara Uang, Misteri Kerangka di Hutan Jati Sagaranten Akhirnya Terpecahkan
Ratusan Buruh ‘Kepung’ Kantor BPJS Ketenagakerjaan Sukabumi Keluhkan Pencaloan Pencairan
Jangan Bangga dengan UNESCO, Wisata Sukabumi Perlu Sentuhan Nyata
Disandingkan dengan Foto Orang Hilang, Akhirnya Misteri Kerangka di Sagaranten Terungkap
Geger Penemuan Kerangka Manusia di Hutan Jati Sagaranten, Polisi Selidiki Identitas Korban
Arus Balik Libur, Jalur Sukabumi–Bogor Macet Parah

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 16:08 WIB

17 Tahun Irigasi Terbengkalai, Sawah Hilang, Warga Cikadu Gali Sumur di Bekas Saluran Air Demi Bertahan Hidup

Sabtu, 18 Juli 2026 - 12:46 WIB

Resmi Dilantik, Kang Sule Kembali Pimpin SMSI Sukabumi Raya 2025–2028

Jumat, 17 Juli 2026 - 17:12 WIB

Parah! Antrean Truk di SPBU Cibadak Kuasai Bahu Jalan, Pengendara Premium Terjebak

Kamis, 16 Juli 2026 - 22:33 WIB

Dihantam Botol dan Batu Gegara Uang, Misteri Kerangka di Hutan Jati Sagaranten Akhirnya Terpecahkan

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:44 WIB

Ratusan Buruh ‘Kepung’ Kantor BPJS Ketenagakerjaan Sukabumi Keluhkan Pencaloan Pencairan

Berita Terbaru