Oleh: RAI Adiatmadja
Founder Komunitas Menulis Buku Antologi
‘New Normal’ adalah hasil peradaban Barat untuk memperpanjang riwayat kedustaan. Mereka berdiri di atas pemahaman pemisahan agama dari kehidupan. Mencerminkan ciri khas yang benar-benar sangat buruk, yakni penjajahan yang hakiki. Keputusan penguasa hanya mengekor pada tren global tanpa mempersiapkan optimalisasi internal.
Melansir dari Merdeka.com–Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr. Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan ‘New Normal’. Menurut dia belum saatnya, karena temuan kasus baru terus meningkat dari hari ke hari.
“Saya kira baru tepat membicarakan new normal ini sekitar minggu ketiga/empat Juni nanti maupun awal Juli. Nah, sekarang ini terlalu gegabah kalau kita bahas dan memutuskan segera new normal itu,” ujar Hermawan saat saat dihubungi Merdeka.com, Senin (25/5)
Menurutnya ada empat kriteria syarat ‘New Normal’, pertama harus sudah ada pelambatan kasus. Kedua, sudah dilakukan optimalisasi PSBB. Ketiga, masyarakatnya sudah lebih mawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, pemerintah sudah benar-benar memperhatikan infrastruktur pendukung untuk ‘New Normal’.
Kendati kriteria tersebut belum tercapai, tetapi pemerintah tetap melenggang dengan segala kebijakannya. Sudah gencar pula mewacanakan dan mulai menerapkannya pada lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN), atau Pegawa Negeri Sipil (PNS), dan karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Apa alasan penguasa memaksakan diri untuk menyegerakan ‘New Normal’ padahal kurva belum melandai? Jawabannya tentu karena tuntutan para kapitalis dan pemilik modal yang tidak mau terus-terusan merugi. Tinggal menekan, maka penguasa akan memberi kebijakan yang membuat rakyat semakin tertekan. Tak peduli maut yang mencengkeram di depan mata. Upaya yang seakan-akan baik padahal memperparah kondisi menjadi semakin kronis. Sudah bisa dipastikan penderitaan akan semakin memuncak.
Di dalam sistem Kapitalisme hanya nilai materi yang diutamakan tanpa memikirkan nyawa manusia yang akan menjadi taruhan disebabkan keputusan yang abnormal.
Menurut Syaikhul Taqiyuddin An-Nabhani rahimahullah, dalam tulisannya di buku An-Nizhamul Islam, dengan judul: Hadharah Islam. Peradaban Barat dibangun berdasarkan pemisahan agama dari kehidupan dan pengingkaran agama dari kehidupan, sehingga tak akan ditemukn nilai moral dan spiritual, yang ada dan menjadi nilai utama hanyalah materi semata.
Demi tujuan tercapainya nilai materi, sang penguasa yang menjadi alat korporasi akan dengan mudah melepaskan tanggung jawab dalam menangani virus Covid-19 yang semakin melahirkan kasus per kasus kian pesat.
Kita bisa mengurai karakter buruk peradaban Kapitalisme dalam menangani setiap problematika, khususnya dalam penanganan virus corona saat ini.
Para ahli kesehatan di Indonesia sudah bersuara mengenai kurva yang semakin bergerak berbahaya. Namun, pemerintah tetap bersikukuh membuat linimasa untuk kegiatan ekonomi. Satu belum usai, kemudian melangkah pada masalah baru dengan istilah ‘New Normal’ yang jelas-jelas tidak dilengkapi dengan kriteria yang seharusnya. Lalu, ditunjang dengan buruknya peran pemerintah dan nilai kepatuhan masyarakat yang minimalis, sulit mewujudkan protokol kesehatan yang benar-benar standar.
‘New Normal’ sesungguhnya dalam peradaban Kapitalisme adalah membiarkan pandemi meluas demi meraih nilai materi dengan bebas. Akhirnya masyarakat harus berjuang lebih keras, tanpa pendampingan dari negara secara luas. Agenda hegemoni yang mencengkeram di balik wabah meruntuhkan masa depan umat dan generasi ke arah paling suram dan seram.
Adakah peradaban yang berkarakter mulia agar kita bisa berpaling dari peradaban Kapitalisme yang hina ini? Jawabannya tentu ada, yakni peradaban Islam.
“Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (TQS. an-Nisa; 141)
Ayat di atas menjelaskan bahwa tidak ada celah bagi kaum kafir menguasai kaum mukmin secara mutlak. Termasuk mengekornya negara mayoritas muslim terhadap peradaban Barat dalam hal politik penanganan pandemi. Termasuk Indonesia.
Peradaban Islam dengan segala perangkatnya, memiliki konsep utama yakni menjaga satu nyawa adalah hal mutlak yang harus dijalankan. Tidak ada waktu untuk menunda, apalagi membiarkan semua menjadi semakin berbahaya.
Sistem Islam (Khilafah) menangani pandemi berasas pada teladan dari Rasulullah saw . Berupaya maksimal menekan agar korban tidak bertambah dan penderita pun diupayakan untuk bisa sembuh total. Memberikan jaminan utuh terhadap hal-hal yang dibutuhkan warga negara dalam kondisi pandemi.
Masyarakat tidak akan sulit menemukan sosok-sosok pemimpin yang bertanggung jawab dan tangguh dalam bingkai sistem Islam. Bukan seperti hari ini, pencitraan yang disepadankan dengan seorang khalifah, tetapi tidak pernah mau belajar, bertobat, meneladani, serta mengambil sistem yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Peradaban Islam adalah satu-satunya yang layak menjadi harapan dan tumpuan dunia, pembebas dari pandemi Covid-19, penyelamat dari manipulasi hegemoni, dan jalan satu-satunya yang bisa menyejahterakan manusia di belahan bumi mana pun.
Entaskan Kapitalisme sebagai limbah peradaban yang telah menyengsarakan dunia dengan segala kehinaannya. Sudah saatnya membuka mata bahwa penguasa tak ubahnya sebagai regulator bagi kaum Barat dengan segala perangkat dan kebijakannya yang kotor.
“ Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (TQS. al-Maidah: 49)
Wallahu a’lam bishowwab.












