Oleh: Habib Ahmad Yazdi R Alaydrus,SH
JURNALSUKABUMI.COM – Kemarin ada whatsAap (WA) masuk membicarakan tentang hebohnya pembicaraan tentang bebasnya Al habib Bahar bin Ali bin Smith, banyak japri masuk melalui pesan WA dan diskusi-diskusi hangat tentang kebebasan beliau, ada yang bersuka cita, ada yang sedu sedan karena takut sama semprotan panas habib satu ini, ditengah suasana pandemi ini beberapa kawan banyak meminta tanggapan ana tentang kebebasan beliau dari sisi politik, agama dan budaya. waduuhh !! kenapa jadi banyak dimensinya ya kayak yang berat banget nih masalah habib bahar bebas, ana hanya berfikir satu hal sekarang semburan habib bahar pasca bebas kali ini untuk kepentingan siapa?
Jikalau berbicara untuk rakyat Indonesia maka wajib ada konsensus terhadap rakyat mana yang diwakili oleh Habib Bahar, mungkin parameternya parlemen majlis taklim cocok untuk mengukurnya, atau mungkin untuk mewakili suara ulama oposisi yang tidak masuk dipemerintahan, sebetulnya ana benci menggunakan kalimat oposisi untuk ulama, tapi mau gimana lagi kenyataanya kontestasi politik kemarin membawa degradasi nilai terhadap ulama, menurut ana ulama itu adalah Wasit, dia bebas dari kepentingan menang kalah karena keberadaanya adalah membantu mensukseskan pertandingan demokrasi lima tahunan, itupun demikian bagi teman-teman aktivis yang kesukaanya sudah pada titik klimaks perubahan tanpa konsep, mereka sudah tidak lagi mau melihat esensi yang diserukan Habib Bahar, yang penting intonasi suara Habib yang satu ini pecah pada dimensi pergerakan, suaranya pecah pada sumbu sumbu perubahan, lebih ekstrimnya lagi “Revolusi”.
Sebenarnya si sudah sejalan sama nawacitanya bapak presiden yakni “Revolusi Mental” nah dilalanya pemerintah gagal memberikan ruang aktualisasi yang optimal bagi anak-anak bangsa (banyak pemuda dan anak bangsa yang menganggur), suara habib bahar ini bisa menjelma menjadi panggilan langit yang ujung-ujungnya mampu membuat ketidak stabilan bernegara, kalau pemerintah gagal membendung habib satu ini ditengah pandemi ada kemungkinan revolusi sosial bisa terbuka pintunya lewat habib bahar, kalau dari sisi politik mah gampang ngebacanya tinggal kita liat ujungnya, pihak mana yang dapat faedah dari cuitan habib bahar, udah dapat dipastikan dia dan kronco kronconya lah yang menjadi tim endorse habib bahar, tapi okelah saya mau memberi sebuah apresiasi yang begitu mendalam terhadap Habib Bahar Bin Ali Bin Smith karena masih bersuara lantang dan menggelegar, namun dari semua seruan habib bahar ana menanti amukan habib bahar kepada Prabowo Subianto karena telah dengan tegas dan sadar mengkhianati perjuangan umat,
Kalau Habib Bahar mampu lakukan itu maka sosok antum memang wajib menjadi idola kaum oposisi sejati, dan sosok yang mewakili suara ketidak adilan, jujur aja bib masyarakat sudah sedih jika energinya terkuras untuk kesekian kalinya demi pertarungan politik beserta kepentingan penumpangnya, nama allah dan rosulnya menghiasi mimbar mimbar pemilihan, dan terperosok pada ruang fanatisme buta, narasi sejarah Nabi besar Muhammad Saw menjadi ajang cocoklogi untuk kejadian politik hari ini,
ya habibana antum sudah dapatkan momentum yang tidak semua dzuriah nabi miliki, demi allah ana sayang sama antum mudah mudahan antum terbebas dari menjadi alat gebuk politik, hayu bib rebut kembali kemuliaan ulama dan habaib yang telah ternodai oleh politik perbutan kekuasaan,
gebuk jokowi bib !!
gebuk prabowo bib !!
gebuk semua dan siapapun pemimpin yg mengkhianati amanah konstitusi.
Dan ana berharap Habib yang paling terdepan mendukung siapapun yang lagi kerja bener buat ngerapihin negri ini.
Salam cinta dan sayang kami untuk habib Bahar bin ali bin Smith
semoga ini tulisan bisa di baca sama yang bersangkutan.
wasalamualaikum Wr.Wbr












