JURNALSUKABUMI.COM – Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi melaksanakan monitoring dan pemantauan kualitas air di Pokdakan Cadas Harapan dan survey potensi budidaya ikan di perairan darat Sungai Citarik, tepatnya di Desa Tugubandung, Kecamatan Kabandungan, Jumat (29/07/2022) kemarin.
Agenda tersebut didampingi juga Kepala Desa Tugubandung, Yudi Guntara. Tujuannya, mencegah dan mengendalikan kualitas lingkungan budidaya melalui manajemen kualitas air dan lingkungan secara periodik dan mengidentifikasi lokasi potensi budidaya ikan di perairan a Sungai Citarik.
Kepala Dinas Perikanan, Nunung Nurhayati menjelaskan, adapun hasil dari agenda tersebut di antaranya, monitoring kualitas air di Pokdakan Cadas Harapan dilakukan terhadap parameter Suhu, PH, O2, Nitrit, Nitrat dan Kesaahan.

“Hasil monitoring menunjukan bahwa kualitas air kolam di Pokdakan Cadas Harapan sangat bagus, ke enam parameter yang diuji menunjukan hasil yang baik, berada dalam kisaran normal,” jelasnya dalam keterangan yang diterima jurnalsukabumi.com, Sabtu (30/07/2022).
Lanjut Nunung, hal tersebut menandakan bahwa kulitas perairan di lokasi tersebut relatif masih belum tercemar. Di Desa Tugubandung sendiri terdapat 3 (tiga) Pokdakan, dengan jumlah kolam air deras 5 unit dan 23 unit kolam air tenang dengan luas total ksekitar 1,1 Ha.
“Adapun komoditas ikan yang dibudidayakan meliputi ; ikan mas, nila, lele, koi, baster, gurame, nilem, grasscarp dan bawal,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Desa Tugubandung terletak di hulu DAS Cimandiri, tepatnya di Sungai Citarik yang memiliki beberapa cabang anak sungai.
“Menurut informasi dari kepala desa kondisi eksisting kolam yang ada di Desa Tugubandung sekitar 230 kolam dengan luas total sekitar 4.9 Ha. Dari hasil survey ke lokasi, di sekitar sungai Citarik terdapat hamparan sawah yang terhampar sekitar 15 Ha, sawah tersebut berpotensi untuk dijadikan sebagai kawasan minapadi atau Ugadi (Udang-Padi). Selain itu Kepala Desa Tugubandung berencana untuk membangun kolam air deras di sekitar sungai seluas 1000 m2 dan berencana untuk menjadikan daerah tersebut sebagai wisata ikan/ wisata mina untuk meingkatkan perekonomian masyarakat desanya,” kata Nunung.
Masih lanjut dia, pada perairan Sungai Citarik Kabandungan banyak dijumpai leuwi atau lubuk yang menjadi tempat berlindung berbagai jenis ikan seperti sidat dan soro, sehingga bisa dialokasikan sebagai kawasan konservasi plasma nutfah perairan darat. Terlebih menurut cerita dari masyarakat sekitar bahwa pada jaman dahulu di daerah tersebut terdapat kearifan local dimana terdapat tradisi marak/ memanen ikan di sungai yang dilakukan setahun sekali dengan upacara yang menampilkan seni wayang golek.
Seiring berlalunya waktu, tradisi tersebut sekarang sudah punah dan hanya menjadi dongengan yang diceritakan secara turun temurun. Budaya atau kearifan lokal ini hendaknya digali kembali dan dilestarikan sehingga menjadi atraksi wisata berbasis kerifan budaya lokal.
“Hal yang harus mendapat perhatian di lokasi perairan tersebut situasi menjelang datangnya musim kemarau dimana pada saat debit air sungai berkurang, terdapat ancaman penangkapan ikan dengan menggunakan setrum atau racun, dan dilaporkan oleh penduduk sekitar bahwa pada saat tersebut bisa berkarung-karung ikan yang didapatkan dari jenis ikan soro dan ikan lain, sehingga hal ini dapat mengancam ketersediaan sumber daya ikan di periaran sungai tersebut. Untuk itu diperlukan pembinaan dan sosialisasi mengenai peraturan perundangan tentang pengawasan sumberdaya perikanan secara lebih intensif,” tandasnya.
Redaktur: Ujang Herlan












