JURNALSUKABUMI.COM – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi mendukung penuh pengembangan singkong atau ubi kayu yang dilakukan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pasca Panen Pertanian Kementerian Pertanian RI.
Singkong atau ubi kayu yang dapat diolah menjadi chips itu memiliki nilai ekonomi tinggi bila sudah berubah bentuk menjadi tepung pregel. Hal itu terungkap dalam Workshop Pengembangan Tepung Ubi Kayu di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi.
“Kami menyambut baik dan siap memberikan bantuan untuk kelancaran program ini. Intinya kami siap bersinergi untuk menyejahterakan petani dan memanfaatkan potensi pertanian Kabupaten Sukabumi,” ujar Sekretaris Distan Kabupaten Sukabumi, Denis Eriska, Rabu (08/06/2022).
Sementara itu, Peneliti Puslitbang Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Dr. Nuning Agro Subekti menjelaskan dirinya sudah melakukan penelitian wilayah di kabupaten sukabumi terkait singkong.
“Kami sudah dua tahun melakukan penelitian ubi kayu di Girijaya, Nagrak. Ubinya bagus, hanya saja masih dijual dalam bentuk ubi segar. Sehingga tidak ada tambahan penghasilan lebih buat petani,” terang Dr. Nuning Agro Subekti.
Ia mengatakan, produksi ubi kayu di Kabupaten Sukabumi masih belum maksimal. Penjualan ubi secara langsung kepada offtaker hanya sekitar 2 ribu hingga 3 ribu rupiah per kilogram. Namun, katanya, nilainya akan sangat tinggi jika dijual dalam bentuk rajangan kering atau chips sebagai bahan baku tepung pregel.
“Kalau dijual dalam bentuk chips itu bisa menjadi 55 ribu rupiah per kilogram. Apalagi riset kami didukung dari hulu sampai hilir dengan adanya offtaker. Kita juga sedang mengurus sertifikat SNI karena tepung pregel ini akan digunakan untuk substitusi pangan. Sehingga harus terstandar. Importir juga sudah minta untuk ke China,” jelasnya.
Pregelatinisasi, kata Nuning, merupakan proses pengolahan tepung dari ubi kayu dengan cara dipanaskan dengan suhu tertentu sehingga berubah menjadi gel. Olahan tepung pregel bisa untuk aneka makanan, seperti pasta, nugget, lasagna, dan lain sebagainya.
Sejauh ini pembuatan tepungnya belum efisien jika dilakukan oleh petani karena membutuhkan infrastruktur dan terstandar karena untuk pangan. Protein tepung pregel ini hanya 3 persen dan zero gluten. Sehingga lebih ramah untuk yang alergi gluten dan anak-anak berkebutuhan khusus.
“Saat ini kita baru bisa produksi 500 kilogram per hari, tapi importir minta 40 ton per hari. Itu yang harus kita kejar,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan












