Oleh: Liana Ariesha Khoerudin (Mahasiswa pasca sarjana IMN Angkatan X semester 2)
Istilah buka bersama sekarang ini, sudah membudaya. Dalam bahasa ilmiah sosiolog dunia yakni Durkheim, sudah terinternalisasi menjadi sistem sosial masyarakat. Terutama disaat Ramadhan.
Angle sudut pandang tulisan ini, ber setting di kampus kami. Yakni Institut Madani Nusantara (IMN). Khusus kelas kami, kami namakan
“Buka bersama Tenseek ajang Silaturahim dan kekompakan”.
Sedangkan Tenseek sendiri merupakan singkatan dari Ten-Aseek, adalah mahasiswa pascasarjana IMN Angkatan X yang tengah duduk di semester 2, kami yang penuh dengan bar-bar (istilah kami, cerminan bahwa ketika kumpul, tidak ada lagi posisi atau bahkan jabatan diluar sana, semua tanggalkan itu. Yang ada kami adalah semua sama sama mahasiswa yang ekspresif tiada ewuh pakewuh satu sama lain) yang memang penuh dengan keceriaan juga berbagai karakter dan profesi yang menyatukan dalam kelas Pascasarjana IMN Angkatan X.
Tepat beberapa hari yang lalu, Tenseek menggelar buka bersama, mengambil tempat di posko tenseek (ruangan kelas kami biasa menerima kuliah) di kampus IMN. Pelaksanaannya saat kuliah kami usai.
Menjelang menunggu beduk magrib, Ustazah Hj Gustinaningsih (Kepala Sekolah SMP Al-Umana Boarding School), kami daulat untuk memberikan kultum (kuliah tujuh menit). Dalam kultumnya, beliau menjelaskan bahwa ada 5 keutamaan lailatul qodar, diantaranya; 1) lebih baik dari seribu bulan, 2) turunnya Al-Quran, Alloh SWT berfirman pada surat al-qodar ayat 1-5 yang artinya “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat. Dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya dengan segala urusan. Malam itu penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar.” 3) malam lailatul qodar adalah malam istimewa pada umat Rosululloh SAW, 4) Turunnya para Malaikat, seperti pada penjelsan dalam surat al-qodar ayat 4, 5) Keselamatan.
Kemudian acara di lanjutkan dengan saling melempar teka-teki antara anggota tenseek (beberpa menit menjelang beduk magrib)
Suasana keakraban dan keceriaan pun terjadi di ruangan kelas tenseek pascasarjana.
“Semoga kebersamaan dan kekompakan kita tetap terus terjaga, dan hari ini kita berdoa bersama meminta kepada yang maha kuasa diberikan keselamatan dan kesuksesan terutama kesuksesan kita lulus bareng- bareng dan menjadi M.Pd yang berkualitas dan siap guna di masyarakat kelak” pungkas Syamsul Aripin sang ketua tenseek, dengan semangat 45.
Selain itu ia sampaikan pula “ucapan terimakasihnya kepada seluruh anggota tenseek yang sudah menyempatkan baik materi, tenaga maupun waktunya untuk hadir buka bersama”.
Dalam perspektif ilmu yang diperoleh ketika penulis berkuliah di S1, dalam psikologi organisasi bahwa motivasi seseorang atau peserta didik dalam meraup pengetahuan di kelas, harus juga didorong oleh kepuasan dari si pemilik keahliannya itu, agar keahliannya terpacu untuk terus tertingkatkan. Ditambah lagi, karena manusia sebagai faktor produksi, adalah faktor produksi dimana sang pemilik dan skillnya berpadu satu. Berbeda dengan faktor produksi lainnya, seperti modal dan tanah. Dimana pemilik modal dan tanah, tidak bersatu dengan pemiliknya.
Apapun itu, buka bersama merupakan salah satu peningkat motivasi selain untuk keguyuban sesama anggota masyarakat juga dapat dimanfaatkan pula sebagai ajang untuk mendongkrak mental prestasi, sejalan dengan himbauan David Mc Clelland dalam penelitian yang ia kembangkan di medio tahun 1985 silam.
Selamat menjalankan puasa di sisa hari menjelang 1 Syawal. Semoga kita dalam menjalankan ibadah shaum ini dengan segala budaya inovasinya, buka bersama dan sebagainya, dapat sambil memahamkan diri kita bahwa ajaran Rasul itu sebetulnya sangat ilmiah. Sudah saatnya ber Islam yang selama ini cenderung mengedepankan aspek doktrinasi untuk juga mensinergikannya dengan aspek keilmiahan yang mulai dari PAUD, sekolah dasar, menengah bahkan perguruan tinggi terus matangkan. (*).












