Ketidaktahuan Membunuh Cinta

Selasa, 5 Januari 2021 - 12:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Oleh: Muhammad Mulki (Sekretaris Umum HMI Cabang Sukabumi)

Cinta itu sangat rapuh dan sangat lembut. Seseorang harus sangat berhati-hati dan cermat tentang hal itu. Engkau dapat membuat kerusakan sedemikian rupa sehingga pasanganmu menjadi tertutup, menjadi defensif. Begitulah cara seseorang menjadi tertutup. Jika engkau bertengkar terlalu sering, dia akan mulai melarikan diri; dia akan menjadi semakin dingin, semakin tertutup, sehingga dia tidak lagi merasa rentan terhadap seranganmu. Kemudian engkau akan lebih sering menyerangnya karena engkau akan melawan kedinginannya itu. Ini seperti lingkaran setan. Dan begitulah caranya kekasih terus menerus berpisah. Mereka saling menjauh satu sama lain, dan mereka berpikir bahwa pasangannya lah yang bertanggung jawab, bahwa pasangannya mengkhianati dirinya.

Faktanya seperti yang kulihat, tidak ada kekasih yang pernah mengkhianati pasangannya. Hanya ketidaktahuan yang membunuh cinta – tidak ada yang mengkhianati satu sama lain. Keduanya ingin bersama, tapi entah kenapa keduanya cuek. Ketidaktahuan mereka mempermainkan mereka dan ketidaktahuan itu menjadi makin kuat. Lambat laun mereka hanyut. Kemudian mereka mengira bahwa cinta itu berbahaya.

Cinta tidak berbahaya. Hanya ketidaksadaran yang berbahaya.

Ada banyak orang yang menghindari cinta hanya untuk merasa aman. Ada orang yang tidak ingin berkomitmen dalam hubungan apa pun, karena mereka tahu, begitu engkau berkomitmen dan engkau mendekati dia, pertengkaran dimulai, permusuhan dimulai, dan hal-hal buruk muncul, jadi apa gunanya berkomitmen? Paling-paling mereka tertarik pada hubungan seksual, tapi bukan pada keintiman. Dan kecuali suatu hubungan itu intim dan dalam, engkau tidak akan pernah tahu apa itu sebuah hubungan. Hubungan seksual tidak menyentuh intinya, dan engkau tidak akan pernah puas karenanya.

Hal ini wajar. Seseorang harus menerimanya dan dengan penerimaan itu mereka melampauinya. Jika engkau merasa terlalu marah, masuklah ke kamarmu, pukullah bantal, menangis, meratap, menjerit, tapi lakukan sendirian. Mengapa menunjukkan wajah jelekmu kepada pasanganmu? Apa intinya? Hanya katarsis, hanya pengungkapan emosi.

Orang bijak mengatasi ketidakbahagiaannya sendirian, dan kapan pun dia bahagia, dia datang dan berbagi dengan orang lain. Orang bodoh berbagi ketidakbahagiaannya dengan orang lain, dan ketika dia bahagia dia duduk sendirian. (*).

Berita Terkait

Kemudahan yang Menjerat: Krisis Pengelolaan Keuangan di Era Pinjaman Cepat
Menjemput Berkah di Tengah Badai Geopolitik: Jihad Ekonomi, Budaya, dan Spiritual Kabupaten Sukabumi
Di Balik Senyum Siswa Sukabumi: Rasa Syukur atas Kehadiran Heri Gunawan
Semangat Kartini yang Tak Pernah Usai di Ujung Pengabdian
Lingkaran Setan di Kawasan Industri: Saat ATM Buruh Berpindah ke “Koperasi” Darah
Idul Fitri dan Wajah Baru Keadilan Pidana
Sajadah Literasi di Ujung Senja: Menjemput “Mubarakah” di Tengah Riuh Dunia
Pers Sehat, Investasi Kuat: Menjaga Nadi Ekonomi Kabupaten Sukabumi di HPN 2026

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:17 WIB

Kemudahan yang Menjerat: Krisis Pengelolaan Keuangan di Era Pinjaman Cepat

Minggu, 10 Mei 2026 - 22:17 WIB

Menjemput Berkah di Tengah Badai Geopolitik: Jihad Ekonomi, Budaya, dan Spiritual Kabupaten Sukabumi

Senin, 4 Mei 2026 - 14:40 WIB

Di Balik Senyum Siswa Sukabumi: Rasa Syukur atas Kehadiran Heri Gunawan

Selasa, 21 April 2026 - 19:43 WIB

Semangat Kartini yang Tak Pernah Usai di Ujung Pengabdian

Kamis, 26 Maret 2026 - 11:44 WIB

Lingkaran Setan di Kawasan Industri: Saat ATM Buruh Berpindah ke “Koperasi” Darah

Berita Terbaru

RAGAM

DPPKB: Kampung KB Desa Kalibunder Jadi Pusat Perubahan

Kamis, 14 Mei 2026 - 20:44 WIB