JURNALSUKABUMI.COM – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dinilai tidak cukup dimaknai dengan upacara dan kemeriahan. Momentum tersebut harus menjadi pengingat atas perjuangan para pendahulu sekaligus dorongan untuk menghadirkan pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Pandangan itu disampaikan Budi Azhar Mutawali, calon Ketua DPD Golkar Kabupaten Sukabumi. Menurutnya, 81 tahun kemerdekaan merupakan waktu yang tepat untuk kembali melihat sejarah perjuangan sekaligus menentukan arah pembangunan Sukabumi ke depan.
Budi menilai, kemerdekaan Indonesia lahir dari pengorbanan besar para pejuang. Karena itu, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga hasil perjuangan tersebut melalui kerja nyata.
Sukabumi, kata dia, memiliki jejak panjang dalam perjuangan kemerdekaan. Selain nama-nama seperti KH Ahmad Sanusi, Rd. Didi Sukardi Widjaya dan Letkol Eddie Sukardi, terdapat pula tokoh dan pejuang lokal yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.
Salah satunya adalah perjuangan di Palagan Bojongkokosan, yang menjadi bagian penting dari sejarah revolusi fisik di Sukabumi. Jejak perjuangan juga tersebar di Cicurug, Cibadak, Gunung Kekenceng hingga Nyalindung.
Menurut Budi, sejarah tersebut jangan sampai hanya tersimpan dalam buku atau museum. Generasi muda perlu diperkenalkan dengan sejarah daerah melalui cara yang sesuai dengan perkembangan zaman, termasuk dokumenter, media sosial, podcast hingga kunjungan langsung ke situs sejarah.
“Kita boleh berbeda latar belakang, tetapi jangan berbeda dalam mencintai Sukabumi dan Indonesia. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi tujuan kita harus tetap sama: bagaimana masyarakat semakin sejahtera dan daerah semakin maju,” kata Budi Azhar, Jumat (14/8/2026).
Budi juga menempatkan persatuan sebagai modal penting pembangunan Sukabumi. Dengan wilayah yang luas dan karakter masyarakat yang beragam, pembangunan membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, pemuda, akademisi, tokoh agama hingga organisasi kemasyarakatan.
Ia menegaskan, perbedaan pilihan politik maupun kepentingan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kepentingan masyarakat.
Menurutnya, tantangan kemerdekaan saat ini telah berubah. Jika generasi terdahulu berjuang dengan senjata, generasi sekarang menghadapi persoalan kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesenjangan, daya saing ekonomi dan pemerataan pembangunan.
Karena itu, kemerdekaan harus diwujudkan melalui kebijakan yang membuka kesempatan kerja, memperkuat petani, nelayan dan UMKM, serta memastikan masyarakat desa mendapatkan akses infrastruktur, teknologi, pendidikan dan pelayanan publik yang layak.
“Pembangunan tidak boleh hanya terlihat di pusat pemerintahan. Pembangunan harus terasa sampai ke desa, dari kawasan utara hingga selatan, dari pegunungan hingga pesisir,” tegasnya.
Budi merangkum momentum 81 tahun kemerdekaan dalam tiga hal: mengingat, menyatukan dan membangun.
Mengingat jasa para pejuang, menyatukan berbagai perbedaan sebagai kekuatan, kemudian menerjemahkan kemerdekaan melalui pembangunan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal 17 Agustus sebagai hari perayaan, tetapi memahami bahwa kemerdekaan lahir dari pengorbanan yang panjang.
“Dari Sukabumi, kita hormati para pejuang, mari kita rawat persatuan, dan kita teruskan perjuangan untuk Indonesia yang lebih baik, Sukabumi yang lebih baik,” tandas Budi.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











