Jalur Air Warga Ditutup Urugan, Kekhawatiran Banjir Mengintai Kampung Mariuk Simpenan 

Jumat, 2 Oktober 2026 - 09:43 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Urugan tanah di Kampung Mariuk, RT 03/02, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, mulai memicu kekhawatiran warga.

Bukan sekadar tumpukan tanah, material urugan yang dilakukan oleh seseorang tersebut diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 45 sentimeter hingga 1 meter itu disebut telah menutup jalur pembuangan air dari permukiman menuju Sungai Cimandiri.

Kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi warga. Sebab, saluran yang selama ini menjadi jalur air dari permukiman dan jalan utama justru tertutup ketika musim penghujan mulai mengancam.

Warga khawatir air yang seharusnya mengalir menuju sungai akan tertahan dan berbalik masuk ke kawasan permukiman.

H. Ruswandi (50), warga setempat, mengatakan saluran tersebut menjadi fasilitas warga dari beberapa RT untuk mengalirkan air menuju Sungai Cimandiri.

“Sudah tiga atau empat hari ada pengurugan. Selokan untuk dua RT ini mengalir ke Cimandiri. Sebelum ditutup saja pernah banjir, apalagi sekarang ditutup total. Kami khawatir dua RT terdampak banjir,” ungkapnya.

Ruswandi meminta pengurugan tidak dilakukan sebelum saluran air dibenahi dan ada pembahasan dengan pihak terkait.

“Kalau mau dibuat warung, seharusnya dibicarakan dulu dengan desa atau kecamatan. Selokannya dibenahi dulu sebelum diurug agar tidak menimbulkan banjir,” tegasnya.

Menurutnya, sedikitnya tiga RT berpotensi terdampak karena aliran air hujan dari kawasan sekitar mengarah ke lokasi tersebut.

“Yang jelas mungkin ada tiga RT yang terdampak. Air hujan dari arah sana semuanya ke sini,” ujarnya.

Ia berharap saluran tersebut tetap difungsikan dengan pembangunan gorong-gorong yang memadai.

“Selokan dibenahi dulu, pakai gorong-gorong besar. Jangan asal diurug, fasilitas air harus diamankan dulu,” katanya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Lilis (60), warga yang rumahnya berada di sekitar lokasi. Ia menyebut rumahnya pernah terdampak banjir ketika debit air meningkat.

“Kalau hujan dan air besar, sampai ke rumah bisa banjir. Apalagi sudah ditutup urugan tanah, bisa makin banjir,” kata Lilis.

Lilis juga mempertanyakan posisi urugan yang menurutnya mengarah ke lahan miliknya. Ia menyebut memiliki sertifikat dengan luas 225 meter persegi.

“Sertifikat teh 225 meter, sampe sana (sambil menunjuk ka lahan pengurukan),” ucapnya.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Karang Taruna Desa Cidadap, Ece Supriadi, mempertanyakan status lahan yang kini dilakukan pengurugan.

Menurut Ece, berdasarkan pengetahuannya, sebagian kawasan tersebut merupakan lahan yang disebut sebagai tanah PU Provinsi.

“Sepengetahuan saya ini lahan PU Provinsi. Kalau memang mengklaim tanah hak milik, silakan, tetapi harus disosialisasikan dulu dengan pihak PU,” ujarnya.

Ece juga menyoroti penutupan saluran air yang dinilai berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat.

“Kalau gorong-gorong ditutup, dampaknya harus dipikirkan. Saluran itu untuk memperlancar air dan mencegah genangan. Jadi legalitas lahannya harus dikaji dulu,” katanya.

Kabarnya terdapat SPPT berkaitan dengan lahan di kawasan tersebut. Namun, status kepemilikan dan legalitas lahan yang diurug masih memerlukan penjelasan serta verifikasi dari pihak berwenang.

Baginya, persoalan utama bukan hanya pemanfaatan lahan, tetapi juga keberadaan saluran air yang selama ini menjadi jalur pembuangan masyarakat.

“Mereka khawatir jika hujan deras turun sementara saluran sudah tertutup, aliran air akan tertahan dan meningkatkan risiko genangan hingga banjir di kawasan permukiman,” tandasnya.

Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

Soal Lahan Parkir Pasar Palabuhanratu Bergolak, Ini Sikap Masing-masing Pihak!
Usai Angin Kencang Terjang Cicurug, Bupati Asep Japar Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Purwasari Diterpa Cuaca Ekstrem, 52 Rumah Rusak dan 9 Pohon Tumbang
Identitas Mayat di Bawah Tol Bocimi Belum Terungkap, Kaos Barong Jadi Petunjuk Utama
30 Persen Saluran Rusak, Petani di Palabuhanratu Hadapi Ancaman Gagal Produksi
Pohon Beringin Puluhan Tahun di SMAN 1 Cicurug Tumbang, 12 Kendaraan Tertimpa
Roda Pikap Pengangkut Sayur Lepas di Depan RSUD Sekarwangi, Lalu Lintas Tersendat
Temuan Mayat di Bawah Tol Bocimi Gegerkan Warga Ciambar

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 09:43 WIB

Jalur Air Warga Ditutup Urugan, Kekhawatiran Banjir Mengintai Kampung Mariuk Simpenan 

Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:54 WIB

Soal Lahan Parkir Pasar Palabuhanratu Bergolak, Ini Sikap Masing-masing Pihak!

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:41 WIB

Usai Angin Kencang Terjang Cicurug, Bupati Asep Japar Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:47 WIB

Purwasari Diterpa Cuaca Ekstrem, 52 Rumah Rusak dan 9 Pohon Tumbang

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:57 WIB

Identitas Mayat di Bawah Tol Bocimi Belum Terungkap, Kaos Barong Jadi Petunjuk Utama

Berita Terbaru