JURNALSUKABUMI.COM – Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikundul yang dipenuhi gunungan sampah menuai sorotan. Keluhan datang dari masyarakat, bahkan disuarakan oleh organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 23 April.
Warga mengaku terdampak langsung akibat penumpukan sampah tersebut. Bau menyengat yang ditimbulkan disebut mengganggu aktivitas, bahkan memicu keluhan sesak napas di kalangan masyarakat Kota Sukabumi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi, Ayi Jamiat, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengakui adanya bau menyengat dari TPA Cikundul, meski untuk keluhan sesak napas masih perlu dipastikan lebih lanjut.
“Memang benar kondisi di TPA Cikundul menimbulkan bau menyengat. Namun untuk keluhan sesak napas, kami masih akan melakukan pengecekan dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan,” ujar Ayi.
DLH bersama Dinas Kesehatan berencana turun langsung ke lokasi dalam waktu dekat guna memastikan penyebab keluhan warga, apakah murni berasal dari dampak sampah atau faktor lain.
“Kami akan datang ke wilayah terdampak untuk melakukan pemeriksaan, guna mengetahui penyebab pasti dari bau dan keluhan yang dirasakan warga,” tambahnya.
Dalam upaya penanganan, DLH menerapkan metode landfill atau pengurugan tanah guna mengurangi sistem open dumping. Sampah yang telah diratakan akan ditutup tanah secara berkala setiap tujuh hari untuk meminimalkan bau.
“Penutupan sampah dilakukan secara rutin. Namun, kendala yang sempat terjadi adalah curah hujan tinggi yang membuat tanah menjadi lengket dan sulit digunakan,” jelasnya.
Sementara itu, volume sampah yang masuk ke TPA Cikundul setiap hari mencapai sekitar 190 ton. Namun, yang benar-benar masuk ke TPA berkisar 110 ton, karena sebagian telah diolah terlebih dahulu menjadi residu di TPS3R.
Reporter: Rizqi Taupiq | Redaktur: Ujang Herlan












