JURNALSUKABUMI.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, mencatat kejadian bencana dalam lima bulan terakhir, Januari hingga Mei 2022 terdapat sebanyak 68 kejadian dengan kerugian ditaksir Rp 6,4 miliar.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Imran Wardani mengatakan, bencana yang didominasi oleh banjir dan tanah longsor tersebut menyebabkan sebanyak 604 unit rumah dan 54 orang jiwa terdampak.
“Berbagai kejadian bencana ini, mengakibatkan kerugian ditaksir mencapai total sekitar Rp 6.427.970.000,” kata Imran melalui keterangannya, Kamis (24/6/2022).
Lebih lajut Imran menjelaskan, kerugian terbesar akibat bencana banjir yaitu mencapai Rp 4.966.220.000, bencana longsor menyebabkan kerugian Rp 817.250.000, kebakaran pemukiman Rp 350.000.000, cuaca ekstrem Rp 201.500.000, kebakaran transportasi Rp 70.000.000, angin kencang Rp16.000.000 dan gempa bumi sebesar Rp 7.000.000.
“Sementara wilayah yang paling banyak mengalami kerugian adalah Kecamatan Baros Rp 2.581.000.000 dan Kecamatan Cibeureum Rp 2.168.220.000,” jelas Imran.
Adapun kerugian bencana yang tercatat dari setiap kecamatan diantaranya,Kecamatan Cikole menelan kerugian sebesar Rp 496.750.000, Citamiang Rp 354.000.000, Lembursitu Rp 336.000.000, Warudoyong Rp 285.000.000 dan Gunungpuyuh Rp 200.000.000.
Dalam kurun waktu lima bulan terakhir, bencana terdiri dari banjir sebanyak 22 kali, tanah longsor sebanyak 20 kali, cuaca ekstrem sebanyak 11 kali, dan kebakaran pemukiman sebanyak 9 kali. Kemudian gempa bumi sebanyak 3 kali, angin topan atau beliung sebanyak 2 kali, dan kebakaran transportasi sebanyak 1 kali.
“Bencana banjir dan tanah longsor paling banyak terjadi selama kurun lima bulan terakhir,” tutur Imran.
Sementara, untuk rumah yang terdampak dari bencana ini yaitu sebanyak 604 unit, dan warga terdampak 54 orang jiwa. Selain itu, ada satu orang meninggal dunia, 2 orang luka ringan, serta 6 orang mengungsi.
“Jika melihat data yang ada, kejadian bencana paling tinggi terjadi pada Februari 2022 sebanyak 35 kali. Rinciannya banjir 22 kejadian, cuaca ekstrem 3 kali, dan longsor sebanyak 10 kejadian,” jelas dia.
Adapun kejadian tertinggi pada Januari 13 kejadian dan Mei sebanyak 11 kejadian, Maret sebanyak 5 kejadian dan April 4 kejadian. Oleh sebab itu, BPBD terus berupaya melakukan upaya pencegahan dan pengurangan resiko terjadinya bencana.
“Langkah tersebut dengan melibatkan semua elemen masyarakat dan relawan dalam upaya penanganan dan pencegahan terjadinya bencana berbasis masyarakat,” tandasnya.
Reporter: Fira Alfi Syahrin | Redaktur: Ujang Herlan












