Oleh: Liana Ariesha Khoerudin (Mahasiswa Pascasarjana IMN Angkatan X Semster 2)
“Mengapa sikap kita harus terpengaruh dengan sikap orang lain kepada kita?”. Pertanyaan itu suatu hal yang lazim dianggap lumrah di keseharian kehidupan kita. Padahal sebetulnya itu merupakan toxic bila dipandang dari perspektif mental positif.
Apa pasal?. Sejatinya setiap manusia normal senantiasa ingin menjadi lebih baik dari hari ke hari, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan seterusnya. Namun Ketika sikap seseorang terhadap kita tidak baik, misalnya mengadu domba (berita hoaks) dengan seseorang yang berarti dalam hidup kita, sering kali semua itu sontan menimbulkan gejolak dalam hati. Bahkan kecendrungan kita akan spontan membalasnya dengan perlakuan yang sama terhadap yang memfitnah kita disertai dengan emosi yang tinggi, bahkan mungkin lebih dari itu.
Lalu apa bedanya diri kita dengan orang tersebut?. Tentunya pertanyaan ini adalah pertanyaan penting yang harus di renungkan oleh setiap insan.
Sebuah Histori, Ada riwayat, kala Bunda Aisyah (istri Rosululloh SAW) tertinggal di tengah padang pasir, terpisah jauh dari rombongan Rasul yang sedang dalam suatu perjalanan panjang, Bunda ditolong oleh pemuda yang bernama Shafwan.
Kemudian tanpa disia siakan oleh mereka yang tidak simpati dengan perjuangan Rasul, maka berita itu tersebar digoreng oleh ahlul ifki, tentu saja dengan dibumbui fitnah. Bahwa tidak mungkin, ada sepasang pemuda n pemudi yang tertinggal jauh di belakang kabilah, di tengah padang pasir yang sunyi dan gelap, tanpa melakukan hal galibnya sepasang pria & wanita.
Saat berita ini tersebar, tentu saja efektif menghebohkan umat muslim kala itu, bahkan Rosululloh SAW sempat berniat menceraikannya karena kala itu hampir saja termakan oleh hasutan ahlul ifki. Diperparah ada beberapa tafsir yang mengatakan bahwa Alloh pun sampai mengembalikan lagi semua keputusan kepada Rasul itu sendiri.
Namun kemudian turunlah Q.S. An-Nur ayat 11 yang menguak duduk Kebenaran yang sesungguhnya. Adanya peristiwa ini goreng menggoreng informasi, sehingga jauh dari fakta, memang sudah ada bahkan sejak zaman Rosululoh SAW masih hidup.
Kembali ke ayat An-Nur 11, yang ternyata memiliki munasabah dengan ayat ke 14 yang menyatakan bahwa para pembawa berita bohong ini akan mendapatkan adzab yang besar kecuali mendapatkan rahmat dan karunia dari Allah (An-Nur ayat 14).
Di ayat selanjutnya, disebutkan pula bahwa keberadaan berita bohong bukan perkara yang remeh, meskipun disampaikan hanya dari mulut ke mulut (An-Nur ayat 15). Semua ayat ayat tersebut, secara garis besar menegaskan bahwa menyebarkan berita bohong atau hoaks sangat tidak diperbolehkan. Tidak hanya itu, mengatakan atau mengikuti sesuatu yang tidak berdasarkan pada pengetahuan atau fakta pun dalam hal ini dilarang.
Lalu bagaimana agar kita menjadi pemenang atas semua itu?
• Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menekan emosi (nafsu toxic) kita,
“Sesungguhnya nafsu itu (selalu) menyuruh (cenderung pada) keburukan…” (Q.S.Yusuf: 53)
Jika terpengaruh dengan kata2 hoaks atau ujaran kebencian, maka yakinlah kita akan merugi dan penyesalan itu selalu saja diakhir, maka jangan sampai kita menjadi orang yang merugi.
• Berfikir positif, jangan memandang berita hoaks ataupun ujaran kebencian sebagai akhir dari segalanya. Tetaplah optimis dengan langkah-langkah Anda. Persepsi positif akan menolong anda untuk tetap optimis.
• Bertanggung jawab dan jangan menyalahkan orang lain, berinstrospeksi dan beratanggungjawab atas diri sendiri adalah lebih baik.
• Jangan pernah berhenti dan menyerah. Bangkit dan berjuanglah kembali
• Kerahkan energi untuk mengupayakan yang terbaik dengan percaya diri.
Rosulullah Muhammad SAW mengajarkan kepada kita untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja. Bahkan kepada orang yang berbuat jahat kepada kita. Tidak perlu menunggu seseorang itu berbuat baik kepada kita lebih dahulu baru kemudian kita juga berbuat baik kepadanya.
Mengapa sikap kita harus terpengaruh dengan sikap orang lain terhadap kita?. Marilah kita menjadi pemenang kehidupan yang sejati, yaitu tidak perlu menunggu orang lain berbuat baik, baru kemudian membalas dengan berbuat baik, membalas kejahatan dengan kebaikan. Dengan begitu kita akan menjadi orang yang tetap teduh di tempat yang panas, tetap tenang di tengah badai, dan tetap baik meskipun orang lain tidak baik terhadap kita.
Kembali kepada sikap kita yang mudah terpengaruh dengan sikap orang lain kepada kita, seperti di awal artikel ini, di masyarakat seolah wajar, padahal menurut Stephen R Covey dalam bukunya “The 7 habits og highly effective people”, adalah sikap mental negatif karena ini menunjukkan sikap mental reaktif. Yang apabila mental kita adalah mental efektif, seharusnya kita bersikap proaktif.
Yang indikatornya seperti pepatah “Anjing menggonggong kafilah berlalu”. Karena orang yang bermindset negatif, selalu kecewa dengan mereka yang selalu bermindset ” Hari ini harus lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini” Semoga bermnfaat. (*).












