Oleh : Heni Andriani
Ibu Pemerhati Umat dan Member AMK
Saat ini kondisi umat Islam semakin tidak menentu. Kezaliman terus dirasakan di saat pandemi. Ada rasa ketidak adilan yang dirasakan manakala PSBB diberlakukan tempat peribadatan ditutup dan melaksanakan ibadah semuanya serba di rumah. Namun entah mengapa kali ini penguasa justru memberikan izin buka tempat – tempat usaha besar semisal pusat perbelanjaan, mal, bandara dan tempat lainnya.
Hal ini yang dikemukakan oleh
Anggota Komisi Agama DPR RI John Kennedy Azis mengkritik pemerintah yang tidak konsisten dalam menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di tengah pandemi virus corona (Covid-19). John menyebutkan sejumlah video di media sosial yang menayangkan pusat perbelanjaan atau mal disesaki pengunjung. Sementara tempat ibadah tetap dibatasi.
“Di mal-mal penuh, sementara di masjid tetap dikunci, ada apa di sini? Bapak sebagai Kepala Gugus Tugas ada apa di sini? Di mal Bapak biarkan, di tempat-tempat keramaian yang lain dibiarkan,” kata John dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VIII dengan BNPB yang disiarkan langsung dpr.go.id, Kamis (12/5).
Sebuah hal yang kontradiktif bagaimana mungkin bisa memutuskan rantai pemutus penyebaran covid – 19 jika yang satu diizinkan buka yang satu diwajibkan untuk berdiam diri dirumah. Maka dengan melihat kebijakan tersebut tidak akan menyelesaikan masalah pandemi ini. Hal ini jika dicermati ada sesuatu yang diuntungkan yaitu para kapitalis sementara yang lain merasa diperlakukan tidak adil.
Adanya kepentingan ekonomi menjadi alasan berbagai pusat perbelanjaan, mal buka di saat penerapan PSBB. Karena para Kapitalis tersebut tidak ingin terus merugi di masa pandemi.
Sungguh ironis.
Hal ini pula yang menjadi pemikiran oleh anggota komisi VIII
DPR RI Lisda Hendrajoni juga melontarkan kritik serupa. Lisda mengkritik kejanggalan koordinasi pemerintah dalam menerapkan PSBB.
“Si A ngomong apa, si B ngomong Apa, jadi masyarakat bingung. Termasuk juga ada keanehan sekali masjid-masjid ditutup, tidak boleh salat di sana, tapi mal-mal tetap dibuka. Aneh sekali,” ujar Lisda.
Menanggapi hal ini kita bisa melihat sikap penguasa bungkam bahkan seolah-olah tidak mau mengindahkan. Posisi umat Islam di negeri ini tidak memiliki peranan besar justru yang ada para ulamanya banyak dikriminalisasi.
Berbagai kebijakan selama ini sama umat ditaati tetapi disisi yang lain ketika para Kapitalis melakukan pelanggaran tidak mendapatkan sanksi seperti halnya yang dialami sekarang. Ketidakadilan ini terus berlangsung dan tentu rakyat yang menjadi korban.
Suara ulama pun nyaris tidak didengar oleh rezim Kapitalis ketika apa yang disampaikan tidak sehaluan dengan mereka. Bahkan dianggap sebagai penentang rezim ini. Namun anehnya ketika suara ulama dibutuhkan untuk mendukung kebijakan sikap penguasa akan merespon secara cepat. Dalam hal ini kedudukan ulama hanya untuk formalitas kebijakan semata.
Kedudukan dan Peran Ulama dengan Penguasa
Penguasa dan ulama sejatinya saling bersinergi. Penguasa menjadikan ulama sebagai guru untuk diminta nasihat atas segala kebijakan yang akan dikeluarkan.
Ketika penguasa melakukan penyimpangan maka disinilah peran ulama untuk meluruskan agar hal tersebut tidak merugikan umat.
Sementara ketika ulama berdiam diri terhadap penyimpangan penguasa niscaya kerusakan akan meluas di tengah masyarakat. Kondisi saat pandemi sekarang seharusnya penguasa, ulama serta umat seharusnya berintrospeksi diri bahwa pandemi ini merupakan sebuah ujian keimanan bagi semua umat manusia. Semakin mendekat kepada Allah Swt dan Rasul-Nya dengan cara menerapkan hukum-hukum Allah bukan malah sebaliknya.
Islam sebagai agama mulia dan sekaligus sebagai ideologi tentu menempatkan ulama diposisi terdepan sebagai pemberi nasihat, penyampai aspirasi suara umat, meluruskan tatkala penguasa penyimpangan.
Ketika ulama tergelincir dalam jebakan kekuasaan maka hilanglah marwah dan kehormatan di mata umat. Al- imam Ibnu Abdilbarr sebagaimana tercantum dalam Jami Bayt al- ilm wa Fadhlihi mengatakan,
“Para ulama mengibaratkan ketergelinciran ulama itu bagaikan bocornya sebuah bahtera yang jika tenggelam maka banyak juga manusia yang akan tenggelam bersamanya. “
Bahkan jikalau ulama tergelincir dalam fitnah dunia berpotensi menghancurkan Islam itu sendiri.
Maka kita akan melihat ketika Islam masih tegak begitu banyak para ulama yang sangat berhati-hati dalam bujukan penguasa. Ulama saat Islam tegak begitu dihargai tetapi manakala jikalau pun ada penyimpangan penguasa
Mereka rela dipenjara demi mempertahankan kebenaran.
Oleh karenanya ulama saat ini harus tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip ajaran Islam yang mulia. Karena kedudukannya sebagai pewaris para nabi dimana ulama menjadi tempat rujukan umat dan penguasa.
Membimbing umat demi tegak kembali izzul Islam walmuslimin. Membangkitkan umat, meninggikan kesadaran, membentengi dari berbagai pemahaman yang rusak dan membongkar berbagai kebobrokan sistem buatan manusia.
Senantiasa menyuarakan kebenaran apapun resikonya terlebih di masa pandemi sekarang ini.
Namun mengharapkan suara ulama didengar dan menerima masukan dari mereka sangat nihil di sistem demokrasi kapitalis saat ini. Hal ini karena kedudukan ulama di sistem ini hanya formalitas kebijakan semata.
Wallahu a’lam bishshawab












