JURNALSUKABUMI.COM – Ketua Pengurus Cabang (PC) Kopri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Risma Fauziah, menilai Kota Sukabumi saat ini tengah menghadapi tantangan serius dalam perlindungan perempuan dan anak, serta krisis pemberdayaan perempuan.
Ia menekankan agar pemerintah lebih serius dalam menangani persoalan tersebut karena menyangkut masa depan perempuan dan anak.
Menurutnya, berdasarkan data yang dihimpun dari UPTD PPA, sepanjang tahun 2024–2025 tercatat sebanyak 127 kasus kekerasan dengan jumlah korban mencapai 138 orang.
“Tentunya ini sangat ironis, apalagi mayoritas korban merupakan anak-anak. Hal ini menunjukkan tingginya tingkat kerentanan kelompok usia tersebut. Padahal mereka adalah generasi emas yang harus dilindungi,” ujar Risma kepada Jurnalsukabumi.com, Senin (27/4).
Ia menilai, jumlah kasus dan korban tersebut tergolong tinggi, terlebih Kota Sukabumi merupakan kota kecil. Karena itu, dinas terkait diminta lebih serius dalam menyikapi persoalan ini, mulai dari penanganan hingga pendampingan untuk memberikan perlindungan kepada korban.
“Ini menjadi fokus kajian kami dan kami konsisten terhadap isu perempuan dan anak. Jika dibutuhkan, kami siap terlibat dalam upaya penanganannya,” ucapnya.
Risma menambahkan, pesatnya perkembangan teknologi turut memunculkan bentuk kekerasan baru, seperti Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), yang semakin memperluas potensi terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Ini menjadi kenyataan pahit. Banyak kasus yang bahkan tidak pernah tercatat karena terkubur oleh stigma dan rasa takut,” tuturnya.
Selain itu, ia juga menyoroti krisis pemberdayaan perempuan di Kota Sukabumi, khususnya bagi perempuan dengan kondisi ekonomi rentan.
“Saya menilai program pemberdayaan perempuan yang ada saat ini masih bersifat seremonial dan belum berkelanjutan,” pungkasnya.
Reporter: Rizqi Taupiq | Redaktur: Ujang Herlan












