Oleh: Aam Abdul Salam, Penasehat PWI Kab. Sukabumi, Penasehat SMSI Sukabumi Raya
Di bawah langit Komplek Perkantoran Cisaat yang perlahan meredup, Sabtu (14/3/2026), aroma takjil bercampur dengan hangatnya persaudaraan. Sore itu, di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sukabumi, buka puasa bersama bukan sekadar ritual penggugur lapar.
Ya menjadi sebuah perhentian spiritual semacam i’tikaf kecil bagi para pengetik berita untuk merenungi arah pena di tengah pusaran zaman yang kian tak menentu.
Filosofi Kebersamaan: Satu Tubuh, Satu Pena
Kehadiran jajaran pengurus, anggota, hingga tokoh-tokoh organisasi menciptakan harmoni kebersamaan yang terasa hangat. Dalam perspektif filsafat sosial, pertemuan seperti ini dapat dimaknai sebagai ruang komunitas sebuah kondisi di mana ego individual melebur demi tujuan kolektif yang lebih besar.
Para sesepuh dan pengurus mengingatkan bahwa jurnalis bukan sekadar pelapor fakta, melainkan pemegang amanah kalam. Kata-kata yang ditulis bukan hanya informasi, tetapi juga nilai, arah, dan harapan bagi masyarakat.
Dalam konteks itu, kehadiran para senior menjadi simbol pentingnya transmisi nilai dan kebijaksanaan antar generasi. Sebab, idealisme jurnalistik harus terus dijaga agar tidak padam oleh pragmatisme zaman.
Spiritualitas Literasi: Jalan Menuju “Mubarakah”
Diskusi yang mengalir di sela waktu berbuka mengerucut pada satu misi penting: gerakan literasi. Dalam dimensi spiritual, literasi adalah refleksi dari perintah pertama dalam tradisi Islam, Iqra membaca, memahami, dan memaknai semesta.
Bagi PWI Kabupaten Sukabumi, literasi dipandang sebagai instrumen pencerahan masyarakat sekaligus bagian dari upaya mendukung visi Mubarakah (Mandiri, Religius, Inovatif) yang diusung pemerintah daerah.
Pena jurnalis diharapkan menjadi obor yang menerangi jalan menuju kemandirian masyarakat. Literasi yang dibangun bukan sekadar teoritis, tetapi membumi dan mendorong optimalisasi potensi lokal, antara lain:
- Kemandirian pangan dan energi, dengan mengajak masyarakat kembali mencintai potensi tanahnya sendiri di tengah ketidakpastian global.
- Penguatan sektor pariwisata, melalui narasi yang memperkenalkan keindahan alam Sukabumi kepada dunia.
- Penciptaan iklim investasi yang sehat, lewat pemberitaan yang menyejukkan namun tetap kritis dan konstruktif.
Menatap Ufuk Global: Literasi di Tengah Ketidakpastian
Di balik kehangatan kopi dan teh manis sore itu, terselip pula kesadaran akan dinamika global yang semakin kompleks. Ketegangan geopolitik dunia bukan lagi sekadar berita internasional di layar gawai, tetapi bisa berdampak hingga pada stabilitas ekonomi masyarakat di daerah.
Dalam situasi seperti itu, peran jurnalis menjadi semakin penting. Literasi publik harus diperkuat agar masyarakat tidak mudah terombang-ambing oleh kepanikan informasi. Jurnalisme yang sehat harus mampu menghadirkan informasi yang jernih, menenangkan, sekaligus memberi perspektif yang konstruktif. (*).












