Saat Seribu Pesilat Sukabumi Beratraksi di MURI Dunia

Senin, 28 Juli 2025 - 17:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM– Lebih dari sekadar atraksi memukau, kesenian Bola Leungeun Seuneu (Boles) dari Kota Sukabumi telah menorehkan babak baru dalam sejarah kebudayaan Indonesia.

Pada Jumat (25/7/2025) sebanyak 1.000 pesilat berhasil memecahkan Rekor MURI Dunia melalui pertunjukan Boles di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), sebuah puncak dari perjalanan panjang melestarikan warisan leluhur.

Kisah Boles bukanlah cerita baru. Olahraga tradisional ini pertama kali dikembangkan oleh KH Fajar Laksana dari Perguruan Silat Sang Maung Bodas pada tahun 2010.

Namun, akarnya jauh lebih dalam, terinspirasi dari permainan serupa yang tercatat dalam naskah Kitab Suwasit dari abad ke-13 hingga ke-14 Masehi, pada masa kejayaan Kerajaan Pajajaran.

Naskah kuno ini kini tersimpan rapi di Museum Prabu Siliwangi, menjadi bukti otentik dari kekayaan budaya yang diwariskan.

“Boles itu sejak 2010 kita kembangkan berarti sudah hampir lebih dari 15 tahun kita mempromosikan, mempersiapkan, mengenalkan sampai ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia dan sekarang tercatat rekor dunia MURI perjalanan yang sangat panjang,” ungkap KH Fajar Laksana, pencipta Boles, Senin (28/7/2025).

Perjalanan belasan tahun ini menunjukkan ketekunan dan dedikasi untuk menjaga agar warisan ini tidak punah ditelan zaman.

Pemecahan Rekor MURI Dunia dengan 1.000 pesilat yang beratraksi Boles bukanlah hal yang mudah. KH Fajar Laksana mengungkapkan bahwa persiapan membutuhkan waktu sekitar dua bulan.

Ribuan pesilat ini tidak hanya berasal dari Sukabumi, tetapi juga dari Bogor, DKI Jakarta, Banten, Depok, dan Tangerang Selatan.

Kekompakan dan koordinasi yang luar biasa dari para pesilat ini menjadi kunci keberhasilan acara tersebut, menunjukkan bahwa semangat melestarikan budaya mampu menyatukan berbagai daerah.

“Luar biasa tidak menyangka kita malah mendapatkan Rekor Dunia MURI,” tutur KH

Pengukuhan rekor ini menjadi bukti otentisitas Boles yang diakui secara global, sebuah keunikan yang tidak dimiliki oleh negara lain.

Di balik kemegahan aksi bola api yang terbang dan ditangkap tanpa gentar, Boles menyuguhkan filosofi hidup yang mendalam.
Bola api yang panas membara diibaratkan sebagai hawa nafsu yang harus dikendalikan oleh manusia.

Ketika bola api berhasil dimasukkan ke dalam keranjang gawang, ini melambangkan keberhasilan manusia mengendalikan nafsunya untuk mencapai tujuan hidup yang bermakna.

“Jadi Boles itu menggambarkan hawa nafsu yang harus dikendalikan,” jelas Fajar Laksana.

Makna inilah yang membuat Boles tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang turut hadir menyaksikan, menyatakan kebanggaannya atas pencapaian ini. Boles, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI), kini berpotensi besar untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda tingkat dunia ke UNESCO.

“Ini perlu kita kajian mungkin saja nanti melalui extension namanya kalau ada dari negara lain yang juga mengajukan yang sama atau sudah mengajukan nanti kita lihat. Tapi rasanya ini sesuatu yang unik yang asli Indonesia,” ujar Fadli Zon, membuka peluang Boles untuk mendunia.

Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Nasution, juga turut mengungkapkan rasa bangganya.

“Alhamdulillah, saya bersama Menteri Kebudayaan menyaksikan langsung pemecahan rekor MURI Dunia, Boles dari Kota Sukabumi. Insyaallah, ke depan Kota Sukabumi siap bersinergi dengan Kementerian Kebudayaan untuk merawat dan melestarikan tradisi seperti ini,” tegasnya.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah dan antusiasme masyarakat, Boles kini tak hanya menjadi kebanggaan Sukabumi, tetapi juga simbol kekayaan budaya Indonesia yang siap mendunia.

Reporter: Fira AFS | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

Bukan Sekadar Tempat Nongkrong, Bukit Panenjoan Tenjojaya Kini Jadi Penggerak UMKM Warga
Tepis Isu Kamar 308 Tempat Berburu Mustika, Samudra Beach Hotel Bongkar Fakta Tak Terduga 
Kamar 308 Samudra Beach Tak Hanya Dikunjungi, Kini Disebut Jadi Lokasi Berburu Mustika
Wisata Sukabumi Tak Perlu Gedung Mewah, Wabup Andreas: Rawat Alam, Budaya, dan Kebersihan
Dispar Berlakukan Tarif Parkir Per Jam di Pantai Selatan Sukabumi
PENYU Cari Lokasi Ideal, Gadobangkong hingga Citepus Dibidik Jadi Kawasan Baru Mangrove
8 Tahun Padjadjaran Anyar, Dari Nyukcruk Galur hingga Menjaga Warisan Karuhun
Desa Wisata Tegallega Disiapkan Jadi Magnet Baru Pariwisata Sukabumi Selatan

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 12:44 WIB

Bukan Sekadar Tempat Nongkrong, Bukit Panenjoan Tenjojaya Kini Jadi Penggerak UMKM Warga

Kamis, 6 Agustus 2026 - 10:25 WIB

Tepis Isu Kamar 308 Tempat Berburu Mustika, Samudra Beach Hotel Bongkar Fakta Tak Terduga 

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:52 WIB

Kamar 308 Samudra Beach Tak Hanya Dikunjungi, Kini Disebut Jadi Lokasi Berburu Mustika

Senin, 3 Agustus 2026 - 15:33 WIB

Wisata Sukabumi Tak Perlu Gedung Mewah, Wabup Andreas: Rawat Alam, Budaya, dan Kebersihan

Senin, 3 Agustus 2026 - 11:58 WIB

Dispar Berlakukan Tarif Parkir Per Jam di Pantai Selatan Sukabumi

Berita Terbaru