Miris! Demi Bantu Keluarga, Siswa SD di Jampangtengah Terpaksa Bajak Sawah

Sabtu, 11 April 2020 - 20:07 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – “Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu. Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu. Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu. Dipaksa pecahkan karang, lemah jarimu terkepal”.

Penggalan lirik lagu penyanyi legendaris, Iwan Fals berjudul Sore Tugu Pancoran tersebut tampaknya mewakili kehidupan Herdiansyah (15). Siswa kelas VI SDN Citigeu selama mengisi waktu yang sejatinya belajar di rumah, imbas pandemi Covid-19, malah dengan cara membajak sawah.

Rutinitas siswa yang beralamat di Kampung Sawahlega, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi ini bukanlah keinginan hatinya. Akan tetapi, kondisi perekonomian orangtuanya yang serba kekurangan mendorong dirinya terpaksa membanting tulang.

Saban hari, Herdiasyah bersama dua temannya, dari pagi hingga sore menggunakan hand traktor bersemangat membajak sawah. Rata-rata upah yang diterima dia bersama dua temannya, masing-masing Rp40 ribu.
Pendapatannya itu diperoleh mereka setelah per harinya bisa membajak tiga sampai empat kotak sawah. Upah per kotaknya Rp100 ribu. Hasil kerja kerasnya itu disisihkan untuk membantu keperluan keluarga, termasuk biaya dua adiknya.

Siswa kelas VI SD di Jampantengah, Herdiansyah tengah membajak sawah.

“Sehari paling tiga atau empat kotak sawah. Dari Rp100 ribu per kotak, dikurangi sewa traktor Rp60 ribu, solar sampai tiga liter Rp30 ribu. Hasilnya dibagi tiga sama teman saya, paling saya kebagian Rp40 ribu per hari. Alhamdulillah ada buat jajan saya dan adik-adik saya,” selorohnya, Sabtu (11/04/2020).

Anak pertama dari tiga bersaudara hasil buah cinta pasangan Nanang dan Enur ini mengaku ingin belajar dan bermain, seperti kebanyakan sebayanya. Namun, apabila dia tak bekerja maka tak bisa jajan. 

Bapaknya hanya buruh serabutan. Sementara, ibunya bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW). “Saya menggaru (membajak, red) sawah untuk bantu-bantu keluarga. Bukan tidak mau belajar, terkadang saya iri melihat teman seusia saya yang sedang bermain dan belajar. Tapi mau bagaimana lagi. Saya orang tidak punya, makanya harus bekerja keras membantu keluarga,” ungkap siswa yang bercita-cita menjadi pengusaha ini.

Reporter: Ifan

Redaktur: Jon Digos

Berita Terkait

Terima Aset Rampasan KPK Rp1,94 Miliar, Bupati Sukabumi: Ini Amanah
Buaya 70 Kg Terjerat Jaring di Sungai Cibubuay, Warga Simpenan Sebut Ada Buaya Kedua
Dikenal Kerap Isi Pengajian, Pria di Nyalindung Sukabumi Diduga Cabuli 7 Anak
Nelayan Temukan Jasad Mengapung, Ternyata Pelajar Hilang Terseret Ombak 4 Hari Lalu
Tampil Gemilang di Jaraido Championship 3, Pesilat Muda Sukabumi Zahra Dwi Khoirunnisa Raih Juara 1 Nasional
Bukan Pelanggan! Sanca 3 Meter Tiba-tiba Kagetkan Pemilik Warung di Palabuhanratu 
Pengerukan Tanah Merah Belum Berizin Kembali Disorot, BEM PTNU Desak Penghentian Sementara!
Wabup Andreas Pantau Dampak Cuaca Ekstrem di Cicurug, Pemkab Sukabumi Perkuat Penanganan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:55 WIB

Terima Aset Rampasan KPK Rp1,94 Miliar, Bupati Sukabumi: Ini Amanah

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:35 WIB

Buaya 70 Kg Terjerat Jaring di Sungai Cibubuay, Warga Simpenan Sebut Ada Buaya Kedua

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:42 WIB

Dikenal Kerap Isi Pengajian, Pria di Nyalindung Sukabumi Diduga Cabuli 7 Anak

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:30 WIB

Nelayan Temukan Jasad Mengapung, Ternyata Pelajar Hilang Terseret Ombak 4 Hari Lalu

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:19 WIB

Tampil Gemilang di Jaraido Championship 3, Pesilat Muda Sukabumi Zahra Dwi Khoirunnisa Raih Juara 1 Nasional

Berita Terbaru