JURNALSUKABUMI.COM – Bakso berukuran jumbo yang disajikan kedai Bakso Kang Adeng di Jalan Kramat Kelurahan Karamat, Kecamatan Gunungpuyuh Kota Sukabumi, ini menyajikan cara menikmati makan bakso yang tak biasa.
Pasalnya, menu bakso lava yang satu ini disajikan dengan ukuran super besar dengan berat seukuran tabung gas elpiji 3 kilogram.
Bakso jumbo itu disajikan dengan saus terpisah bercitarasa pedas manis ditambah beberapa buah cabai utuh, tentunya akan semakin menggugah selera terutama bagi anda pecinta makanan pedas.
Tersedia beberapa topping di dalamnya seperti bakso berukuran kecil, telur puyuh, daging sapi cincang, serta kombinasi seafood seperti udang, dan cumi. Sensasi lumer bak cairan lava gunung berapi akan terlihat saat anda membelah bakso jumbo seberat 3 kilogram tersebut.
Pemilik kedai, Andi Jatnika (30) mengatakan, dalam sehari dirinya bisa menerima pesanan khusus bakso lava jumbo sebanyak lima sampai sepuluh porsi, dengan harga Rp 350 ribu.
“Khusus 3 kilogram ini, pemesanan di H-1 abis itu besoknya bisa diambil atau di hidangkan. Bikinnya itu prosesnya sekitar 2 jam dari awal, mulai dari adonan, dari mengolah daging sampai adonan kira-kira 2 jam,” kata Andi saat ditemui di kedai miliknya, Minggu (20/11/2022).
Seporsi bakso jumbo ini, kata Andi, bisa dinikmati beramai-ramai oleh 10 hingga 12 orang. Varian ukuran bakso lava ini juga tersedia pilihan lain mulai dari seperempat kilogram hingga yang terbesar yaitu 3 kilogram.
Saat ini, usaha jualan bakso yang dikelolanya sudah memiliki empat cabang di Sukabumi, bahkan ia juga berencana membuka cabang baru di area lainnya dalam waktu dekat.
“Awal mulanya saya kan jualan bakso biasa dari 2013, kemudian tahun 2016 saya mencoba berinovasi berjualan bakso jumbo. Karena di Sukabumi ini saya belum liat ada yang jualan bakso gede, saya coba berinovasi mulai dari jualan bakso beranak, bakso tusuk, dan bakso lava,” tutur dia.
Dari hasil usahanya itu, dirinya dapat meraup omset mencapai lebih dari Rp3 juta perhari untuk setiap cabang. Meskipun, tak dapat dipungkiri, Andi mengaku sempat terkena imbas pandemi.
“Kita ngalamin dari pandemi, sebenarnya kalau usaha naik turun dinamis. Dari pandemi kita ngalamin sempet turun, alhamdulillah naik lagi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Andi berujar, sebelum menggeluti usaha di bidang kuliner, dirinya pernah bekerja di beberapa toko retail sebagai pramuniaga. Hingga dirinya memutuskan beralih menjadi wirausaha berjualan bakso dengan resep yang didapatkan dari sang ibunda.
“Kalau dulu pengalaman di retail salah satu perusahaan di Indonesia, cuman saya resign dan mencoba berjualan bakso. Yang punya resep ibu saya, di modifikasi sama saya bervarian rasa saya coba,” terang dia.
Menurut ayah dari dua anak ini, baik menjadi pegawai maupun memiliki usaha sendiri keduanya memiliki tantangan masing-masing. Saat ini dari penjualan bakso itu, ia pun dapat mempekerjakan 14 orang.
“Kalo menurut saya bekerja di orang itu sama baiknya sih, usaha sendiri itu lebih bagus karena disitu kita belajar memulai memanage dari segi finansial operasional, ada banyak pengalaman belajar dari kegagalan, banyak pelajaran yg kita ambil dari usaha sendiri ini,” pungkasnya.
Reporter: Fira Alfi Syahrin | Redaktur: Usep Mulyana












