JURNALSUKABUMI.COM – Warga Kampung Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, kembali dihebohkan dengan suara dentuman disertai gemuruh sekira pukul 19.00 WIB, Sabtu (30/01/2021) malam.
Tak sedikit, warga sekitar pun panik hingga berhamburan ke luar rumah. Padahal, pada waktu itu di lokasi tersebut masih basah di guyur hujan.
Informasi yang dihimpun jurnalsukabumi.com, kepanikan serta kekhawatiran pun muncul seketika, sesaat warga mulai berteriak hingga mengumandangkan adzan hingga lafadz takbir.
“Allahu akbar, allahu akbar terus kita panjatkan. Bahkan, ada warga yang adzan serta beristigfar kencangnya,” ujar Saripudin (51) salah satu tokoh agama di wilayah tersebut.
Ia pun mengaku, secara spontan ke luar rumah dengan menggendong cucu kesayangannya yang pada waktu itu posisinya masih di dalam ruangan.
“Kejadiannya memang setelah hujan besar. Pas, mendengar suara pun langsung beristigfar dan mengambil cucu serta mengajak istri ke luar rumah,” terangnya.
Tak banyak tahu soal suara dentuman disertai gemuruh yang ia dengar. Hanya saja, Ia mendunga itu merupakan getaran yang muncul akibat adanya proses gerakan tanah yang cukup kuat.
“Gak tahu percis. Perasaan saya kirain itu gempa atau apa lah. Soalnya, lumayan kencang suaranya,” kata Saripudin.
Hal senda diungkapkan, Ketua RT 02/02 Kampung Cigerang, Cucu (50) menuturkan, setelah mendengar suara tersebut langsung mencoba mencari tahu dari mana asal muasalnya suara itu. Namun, tidak menemukan hal atau tanda-tanda sedikit pun.
“Pas pagi kondisi aliaran air berkurang dan retakan tanah semakin bertambah atau posisi berubah. Kita bersama petugas BPBD terus lakukan koordinasi memantau pergerakan tanah. Hingga, sempat melakukan pembongkaran sebagian rumah warga yang dikhawatirkan ambruk,” tuturnya.
Terpisah, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Daeng Sutisna mengatakan, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Peristiwa tersebut pun terekam jelas akibat fenomena alam. Bahkan, hasil monitoring BMKG terhadap beberapa sensor seismik di wilayah Kabupaten Sukabumi itu menunjukkan adanya anomali gelombang seismik.
“Berdasarkan analisis sangat jelas adanya rekaman seismik yang terjadi pada pukul 19.00.36 WIB hingga 19.00.43 WIB. Bahkan, lama durasi rekaman seismik berlangsung cukup singkat, hanya selama 7 detik,” jelasnya.
Masih dari info BMKG, anomali seismik ini tampak sebagai gelombang frekuensi rendah (low frekuensi). Sepintas bentuk gelombangnya (waveform) seismiknya mirip rekaman longsoran atau gerakan tanah.
“Memang, fenomena alam gerakan tanah memang lazim menimbulkan suara gemuruh bahkan dentuman yang dapat didengar warga di sekitarnya. Namun, untuk verifikasi, BMKG akan melakukan survei lapangan. Jika tidak ditemukan, maka besar kemungkinan proses gerakan tanah terjadi di bawah permukaan tanah,” tandasnya.
Reporter: Ruslan AG | Redaktur: Ujang Herlan












