Fraksi Gerindra DPR RI Dukung RUU Kejaksaan

Jumat, 18 September 2020 - 15:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) DPR RI menyetujui atas Rancangan Undang-undang (RUU) Perubahan atas UU Nomor 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPR RI, Heri Gunawan dalam pandangan mini Rapat Badan Legislasi DPR RI di Gedung Nusantara Senayan, Jakarta, Kamis (17/09/2020).

Agenda pembacaan pendapat fraksi-fraksi terhadap RUU tersebut disampaikan melalui surat Nomor 332-DW/KOM.lll/MP.l/Vlll/2020 tanggal 25 Agustus 2020 yang meminta Badan Legislasi untuk melakukan pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi.

“RUU tentang perubahan atas UU nomor 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia telah memenuhi syarat untuk diajukan, karena RUU tersebut termasuk dalam Prolegnas RUU Prioritas tahun 2020 dengan judul yang sama dengan judul RUU yang diajukan pengusul,” ujar HG sapaan akrabnya kepada jurnalsukabumi.com, Jumat (18/09/2020).

Meskipun sebelumnya rencana pembahasan Revisi UU kejaksaan oleh DPR dan Pemerintah tersebut menuai polemik dari banyak kalangan. Namun, kata HG terlepas dari pro kontra mengenai perlunya revisi UU Kejaksaan itu, Komisi III DPR setelah mendengar masukan dari beberapa pakar akhirnya sepakat untuk segera mengusulkan revisi UU Nomor 16/2004 tentang Kejaksaan.

“Fraksi Gerindra berpendapat seyogianya Jaksa Agung diangkat dari pejabat karier untuk mengokohkan profestonalisme kejaksaan. Jabatan Jaksa Agung bukanlah jabatan politik oleh karena tugas Jaksa adalah terkait dengan penuntutan perkara pengadilan dan kewenangan Iain yang diatur dalam perundang-undangan,” tegasnya.

Lanjut HG, namun demikian tetap saja ada kekhawatiran apabila Jaksa agung diisi dari kader partai politik maka politik akan mempengaruhi kejaksaan dalam pelaksanaan tugas dan wewenang dan hukum dapat digunakan menjadi alat permainan politik.

“Untuk itu, kami mendorong revisi UU Kejaksaan sebagai upaya untuk mengoptimalkan tugas pokok dan fungsi kejaksaan dalam memperkuat penegakan hukum, harus dilakukan dengan berbagai alasan,” paparnya.

Dari mulai, tuntutan perkembangan zaman. Saat ini Ul-J No. 16 tahun 2014 tentang kejaksaan sudah berusia 16 tahun sementara perkembangan dinarmika hukum, politik, perkembangan masyarakat dan modus kejahatan telah banyak berubah dan berkembang dengan sangat cepat sehingga revisi Ul.J Kejaksaan adalah keharusan khususnya dalam menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

Kedua, sambung HG, perlu adanya harmonisasi peraturan perundang-undangan yang diantaranya termasuk peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tugas dan kewenangan kejaksaan dengan peraturan perundang-undangan yang Iain seperti KUHAP, 1-JU Kekuasaan kehakiman, ULJ ASN, CIU KPK, Ul-J Tipikor, IJU Peradilan militer, ULJ Intelijen Negara, dan IJU Pengadilan HAM.

Ketiga, saat ini masyarakat semakin kritis dalam menuntut hak dan keadilan dalam penegakan hukum. Sistem pidana di berbagai Negara termasuk Indonesia juga telah mengalami pergeseran paradigma dari keadilan retributif (pembalasan) menjadi keadilan restoratif.

“Hal ini tergambar dengan munculnya peraturan perundang-undangan yang mengedepankan paradigma tersebut seperti UU Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, UU Pencucian Uang yang terakhir diubah melalui UU Nomor 8 Tahun 2010, yang mana Kejaksaan diberikan peran untuk menggunakan dan mengedepankan keadilan restoratif,” beber HG.

Jadi salah satu yang akan diakomodir dalam revisi UU kejaksaan tersebut adalah bahwa dalam penegakan hukum tidak hanya menggunakan pendekatan preventif-represif, namun juga dapat diambil pendekatan lainnya seperti penyelesaian sengketa alternatif sebagatmana halnya mediasi penal yang dilakukan oleh Jaksa. Hal ini tentunya sesuai dengan harapan masyarakat dan bertujuan untuk lebth melayani para pencari keadilan, melindungi dan menjaga demokrasi.

“Fraksi Partati Gerindra berharap agar revisi UU Kejaksaan ini disamping untuk memperkuat penegakan hukum ke depan juga membuat kejaksaan lebih independen, profesional dan berhati nurani,” jelasnya

Terakhir kata HG. “Berdasarkan pandangan dan catatan kami di atas, Fraksi Partai Gerindra DPR Rl menyatakan Menyetujui RUU Perubahan atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia dibahas pada tingkat selanjutnya,” pungkasnya.

Reporter: CR1 II Redaktur : Ujang Herlan

Berita Terkait

Kemarau Picu Krisis Air Bersih di Cibadak, BPBD Sukabumi Salurkan 10 Ribu Liter untuk 315 KK
Pemkab Sukabumi Perkuat Layanan Publik, 95 Pejabat Fungsional Resmi Dilantik
Gagal Kabur, Ayah Diduga Cabuli Anak Kandung Dibekuk Polisi di Parungkuda
Emak-emak Terdampak Pergeseran Tanah di Bantargadung Tagih Janji Relokasi
Beasiswa Gubernur Jawa Barat 2026 di Nusa Putra University, Berikut Syaratnya!
Fatal! Dokumen MCU Tertukar, Kesempatan Kerja Warga Sukabumi Nyaris Terancam
Jeruji Sel Dijebol, Tahanan Polsek Lengkong Kabur dan Lukai Polisi Saat Dikejar
Kejari Sukabumi Terima Pelimpahan Kasus Kematian Nizam, Ayah Kandung Jadi Tersangka

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 19:43 WIB

Kemarau Picu Krisis Air Bersih di Cibadak, BPBD Sukabumi Salurkan 10 Ribu Liter untuk 315 KK

Rabu, 1 Juli 2026 - 14:01 WIB

Pemkab Sukabumi Perkuat Layanan Publik, 95 Pejabat Fungsional Resmi Dilantik

Selasa, 30 Juni 2026 - 12:52 WIB

Gagal Kabur, Ayah Diduga Cabuli Anak Kandung Dibekuk Polisi di Parungkuda

Senin, 29 Juni 2026 - 13:56 WIB

Emak-emak Terdampak Pergeseran Tanah di Bantargadung Tagih Janji Relokasi

Senin, 29 Juni 2026 - 12:45 WIB

Beasiswa Gubernur Jawa Barat 2026 di Nusa Putra University, Berikut Syaratnya!

Berita Terbaru