JURNALSUKABUMI.COM – Di tengah pesona alam Sukabumi yang asri, Hotel Grand Permata Hijau berdiri sebagai oase keramahtamahan yang mengusung konsep “rumah” sejak 1980.
Berawal dari visi sederhana seorang nenek yang ingin menyediakan tempat tinggal bagi pelancong, hotel ini kini menjelma menjadi destinasi yang menggabungkan kenyamanan modern dengan sentuhan nostalgia.
Direktur Grand Permata Hijau, Audrey Clarissa, berbagi kisah inspiratif tentang bagaimana hotel ini terus berinovasi untuk mengangkat nama Sukabumi di kancah pariwisata, sembari menghadapi tantangan ekonomi dan infrastruktur.
Berdiri sejak November 1980, Grand Permata Hijau lahir dari perjuangan seorang nenek yang dengan keterbatasan finansial membangun penginapan sederhana dengan hanya lima kamar.
“Omah saya mulai dari nol, menambah kamar satu per satu, bahkan membeli tanah potong-potong karena keterbatasan,” ungkap Audrey.
Kini, setelah hampir 45 tahun, hotel ini telah berevolusi menjadi Grand Permata Hijau dengan fasilitas modern, termasuk gedung baru, Jade Resto, dan Aurora Grill Sky & Cafe yang menawarkan pengalaman kuliner berkualitas tinggi. Audrey dan kakaknya, dr. Maudy, melanjutkan warisan keluarga dengan penuh dedikasi.
“Sebelum ibu saya meninggal, beliau berpesan agar bagian depan hotel diperbarui. Kami melanjutkan mimpinya, meski penuh tantangan,” katanya.
Dengan semangat pantang menyerah, mereka membangun gedung tujuh lantai, sebuah langkah berani di Sukabumi yang kala itu nyaris tak memiliki hotel.
“Kami ingin membawa standar baru, bukan hanya untuk hotel kami, tapi juga untuk perekonomian Sukabumi,” tambah Audrey.
Grand Permata Hijau bukan sekadar tempat menginap, melainkan rumah bagi setiap tamu yang datang. “Kami ingin tamu merasa nyaman seperti di rumah sendiri, dengan kamar yang apik, makanan lezat, dan pelayanan yang hangat,” ungkapnya.
Jade Resto dan Aurora Grill Sky & Cafe menjadi magnet baru, menyajikan hidangan dengan standar tinggi yang memanjakan lidah, bahkan bagi wisatawan Jakarta yang terbiasa dengan kuliner premium.
“Kami siapkan breakfast spesial agar tamu merasa rileks, seolah lepas dari stres kota,” tambahnya.
Menghadapi Tantangan dengan Optimisme
Meski dihadapkan pada kekhawatiran efisiensi anggaran pemerintah dan infrastruktur seperti tol yang belum rampung, Audrey tetap optimistis.
“Setiap masalah selalu membawa peluang. Kami terus berinovasi dengan strategi, seperti menarik pasar baru dan memperkuat branding,” katanya.
Ia percaya bahwa dengan membangun fasilitas terbaik terlebih dahulu, pemerintah akan melihat potensi Sukabumi sebagai destinasi wisata unggulan.
“Sukabumi punya ‘sweet silence’ seperti Eropa. Situ Gunung dan tempat wisata lainnya begitu asri, tapi belum banyak diangkat,” ujarnya.
Reporter: Fira AFS | Redaktur: Ujang Herlan












