JURNALSUKABUMI.COM – Ponpes Dzikir Al Fath di bawah kepemimpinan KH. M. Fajar Laksana, berhasil mendirikan kembali puing-puing bangunan masjid pasca gempa Cianjur yang luluh lantak diterjang gempa pada November tahun lalu. Sehingga saat ini warga bisa kembali melakukan rutinitas peribadatan secara normal.
Demikian disampaikan Kiai Fajar, usai menggelar seminar dan penghargaan penanganan pasca bencana alam selama tujuh bulan di kampung Sarampad Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Sabtu (08/07/2023).
“Alhamdulilah, kita bisa mendirikan kembali masjid yang hancur terkena dampak gempa. Dana yang terserap untuk pembangunan masjid tersebut senilai Rp500 juta yang berasal dari para donatur,” kata Kiai Fajar.
Selama tujuh bulan, tim STIMIK yang digawangi 20 orang mahasiswa dan Yayasan Mengetuk Pintu Langit, menetap sementara di lokasi untuk mengawal dan memastikan “role model” ala Ponpes Al Fath berjalan baik dan sesuai ekspektasi Kiai Fajar sebagai pencetusnya.
Tidak berhenti di situ, Ponpes Al Fath juga menyumbangkan pemikiran yang mengacu pada dasar praktek penanganan ke Dinas Sosial. Masukan kepada pemerintah tersebut yaitu dengan pendekatan empat variabel dan enam dimensi.
“Variabel pertama adalah ketika menangani bencana itu menggunakan pendekatan Islam. Kedua menggunakan pendekatan Islamic Health Care,” ujarnya.
Selain itu dilakukan pula pendekatan pengobatan bukan hanya secara medis, tetapi pengobatan dari sisi keimanan dan ketakwaan jangan sampai aqidah runtuh dengan adanya bencana itu. Lalu dilanjutkan dengan pendekatan pendidikan education, dan kemudian kita pendekatan entrepreneurship.
Di Kampung Cugenang, Ponpes Al Fath juga lakukan adalah role pick healing, dengan membuat sekolah alam. Sekolah alam itu adalah yang pertama untuk anak -anak dan pengajian untuk orang tua.
Tidak kalah penting katanya, pasokan makanan tetap diberikan kepada jamaah setiap harinya. Sambil menjalankan sekolah alam lalu membuka majelis dzikir, mengumpulkan masyarakat setiap sebulan sekali dalam pengajian “manakiban”.
Dia menambahkan, Ponpes Al Fath juga membuka ruang bagi donatur-donatur yang lain untuk masuk membantu membangun juga toilet, tenda darurat, sekolah darurat lalu yang paling besar adalah membangun masjid.
Selain itu dia mengatakan, pasca bencana masalah kewirausahaan perlu kembali dihidupkan. Sebab dengan bencana itu berpotensi timbulnya masalah kemiskinan.
“Alhamdulillah saya memohon ke pihak pemerintah dalam hal ini ke pusat pelayanan sosial Griya Bina Karya yang di pimpin oleh Pak Budi, karena di sini ada program dari penyelesaian masalah penanganan sosial dari warga yang Duafa,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Pusat Pelayanan Sosial Griya Bina karya Dinsos provinsi Jawa Barat H. Teguh Khasbudi, menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas nama Pemprov Jawa Barat, kepada pesantren Dzikir Al-Fath dalam membantu masyarakat yang tengah terkena musibah.
“Tadi sudah dijelaskan oleh pak kyai sendiri, bagaimana Pesantren Dzikir Al-Fath dengan komponen pendukungnya dalam menangani korban bencana alam korban gempa di Cianjur. Semoga apa yang telah dilakukan ini dicontoh oleh yang lain,” ujarnya.
Redaktur: Usep Mulyana












