JURNALSUKABUMI.COM – PMII Kota Sukabumi menggelar seminar nasional literasi digital, Sabtu (11/6/2022). Kegiatan itu bermula dari keresahan para mahasiswa terhadap perkembangan literasi digital di tengah masyarakat.
Kegiatan yang telah berlangsung di Widaria Kencana (GWK), Jalan Lingkar Selatan (Lingsel), tersebut semakin menarik dengan hadirnya suguhan tarian khas Papua, dan motor modifikasi ala retro hasil karya Wafarel98 yang terpajang di dua sudut ruang gelaran acara.
Kegiatan yang mengusung tema Peluang Usaha Era Disrupsi Digital tersebut, rupanya disampaikan Ketua PMII Syahrul Umar bermula dari keresahan mahasiswa terhadap perkembangan teknologi atau literasi digital di tengah masyarakat.
“Dalam penyelenggaraan kegiatan seminar nasional literasi digital ini, berangkat dari pada keresahan kami dalam respon perkembangan teknologi yang begitu pesat. Artinya bahwa ketika kita tidak mampu untuk beradaptasi maka kita akan tertinggal atau tergerus,” ucap Syahrul.
Menurutnya, gagasan mengenai teknologi digital perlu ditingkatkan dalam penyampaian pemahamannya kepada masyarakat, melalui edukasi yang masif. Karena hal itu dapat mengantarkan sumber daya manusia (SDM) yang sadar akan kemajuan teknologi yang begitu cepat.
“Maka dari itu, kami dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kota Sukabumi senantiasa terus mengupayakan. Agar hal ini terus bisa dikonsolidasikan, guna menyambut masa keemasan Indonesia tahun 2045 mendatang, Kalau bukan kita siapa lagi,” tutur Syahrul.
Lebih lanjut dia mengatakan, karena itu dalam prosesnya peran pemerintah dalam akselerasi digital ini tentu juga memiliki peran penting, dalam dukungan tercapainya harapan tersebut.
“Dalam hal ini pemerintah pun harus mampu hadir, untuk kemudian bertanggung jawab atas kinerja yang dapat kemudian menyelamatkan masyarakatnya, dari kebimbangan dan ketimpangan. Karena ketidakpahaman terhadap penggunaan digitalisasi,” jelasnya.
Syahrul menambahkan, dirinya menghimbau agar seluruh elemen dari pemerintah maupun masyarakat, agar dapat bersama menghadapi persoalan yang satu ini.
Reporter: Fira Alfi Syahrin | Redaktur: Mohammad Noor












