Disnak Kab Sukabumi Jelaskan Sebab Melambungnya Harga Daging Sapi, Ini Datanya!

Jumat, 4 Maret 2022 - 18:04 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Fenomena setiap menjelang ramadhan, harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Komoditas itu seperti kedelai,  cabe, harga daging juga ikut terdongkrak naik. Padahal, sampai waktu menjelang Idul Fitri masih tersisa sekitar dua bulan lagi.

“Harga daging sapi naik, karena kita bergantung pada sapi import, 83% kebutuhan daging di Jawa Barat, Banten dan DKI disupply dari sapi impor asal Australia. Sapi Australia dibeli oleh para pelaku penggemukan dalam bentuk bakalan/sapi hidup untuk dilakukan penggemukan di tanah air,” kata Kepala Bidang (Kabid) Sarana Produksi, Yana Chefiana kepada jurnalsukabumi.com, Jumat (4/3/22).

Pada tahun lalu jelasnya, harga sapi bakalan per kilogram berat hidup dibandrol 2,8 USD saat ini 4,2 USD, atau naik dari Rp40.300/kilogram berat hidup menjadi Rp60.400/kilogram berat hidup. Padahal harga jual menurut beberapa feedloter sebelum kenaikan saat ini harga
per kilogram berat hidup hanya Rp55.000/kilogram.

Kondisi ini kata Yana, menyebabkan beberapa feedloter dan importir sapi di tanah air kolaps akibat harga beli lebih tinggi dibanding harga jual. Harga sapi dengan harga jual Rp55.000/kilogram berat hidup membuat para pelaku penggemukan sapi
menahan diri untuk menjual.

Selain itu, permintaan pasar sejak munculnya Covid-19, juga turun drastis. Sehingga jumlah sapi yang dipotong pun turun, ketika tiba-tiba permintaan naik maka otomatis harga kemudian ikut melambung karena supply daging sapinya terbatas.

Kondisi ini pula yang menjadi salah satu penyebab naiknya harga daging sapi di pasaran saat ini. Fenomena harga daging sapi naik bukan hal yang baru, hampir setiap tahun terjadi kondisi seperti ini. Berdasarkan kondisi tersebut, bagi Kabupaten Sukabumi harus dilihat sebagai peluang usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Minimal untuk mewujudkan swasembada daging sapi di tingkat kabupaten. syukur-syukur kalau surplus sehingga bisa memenuhi pasar luar daerah. Perlu diketahui bahwa tingkat konsumsi daging sapi di Kabupaten Sukabumi masih sangat rendah.

Eksisting berdasarkan
data 2020, tingkat konsumsi daging sapi dan kerbau baru mencapai 0,039 kilogram/kapita/bulan atau dalam jangka waktu 1 tahun 0,468 kilogram/kapita/tahun. Apabila jumlah penduduk di Kabupaten Sukabumi dihitung 2.725.450 jiwa, maka kebutuhan daging per tahun 1.275.510,60 kilogram, ekuivalen dengan 5.668,94 ekor sapi/tahun.

Jumlah indukan sapi produktif yang dibutuhkan sebanyak 34.013 ekor, dengan pertimbangan masa pemeliharaan sampai layak potong hingga usia 3 tahun. Sedangkan, 50% dari kelahiran jenis kelaminnya betina, yang dipertahankan untuk dipelihara. Kondisi eksisting berdasarkan laporan inseminasi buatan tahun 2021.

Jumlah akseptor IB sebanyak 4.612 ekor yang terdiri 3.782 ekor sapi potong dan 830 ekor sapi perah. Maka jika target Kabupaten Sukabumi untuk swasembada daging melalui sapi lokal,
masih kekurangan indukan sebanyak 34.013 ekor.

Lompatan ekonomi untuk mengatasi masalah ketersediaan daging sapi perlu terus dilakukan. Kabupaten Sukabumi yang eksisting memiliki kurang lebih 50 HGU bisa dijadikan aset untuk kerjasama pengembangan pembibitan sapi potong antara pemilik HGU dengan Perumda ASM.

Perumda ASM, ke depan harus mampu menjadi leader sebagai pelaku penggemukan serta pengepul bakalan dari tingkat
petani. Sedangkan Dinas Peternakan sebagai penopang untuk melayani inseminasi buatan, melayani pengobatan serta memfasilitasi prasarana penunjang dalam pengembangan peternakan sapi potong.

Redaktur: Usep Mulyana

Berita Terkait

Buaya 70 Kg Terjerat Jaring di Sungai Cibubuay, Warga Simpenan Sebut Ada Buaya Kedua
Nelayan Temukan Jasad Mengapung, Ternyata Pelajar Hilang Terseret Ombak 4 Hari Lalu
Bukan Pelanggan! Sanca 3 Meter Tiba-tiba Kagetkan Pemilik Warung di Palabuhanratu 
Pengerukan Tanah Merah Belum Berizin Kembali Disorot, BEM PTNU Desak Penghentian Sementara!
Wabup Andreas Pantau Dampak Cuaca Ekstrem di Cicurug, Pemkab Sukabumi Perkuat Penanganan
Puluhan Rumah Rusak, Wabup Andreas Bakal Temui Warga Terdampak di Cicurug
Jalur Air Warga Ditutup Urugan, Kekhawatiran Banjir Mengintai Kampung Mariuk Simpenan 
Soal Lahan Parkir Pasar Palabuhanratu Bergolak, Ini Sikap Masing-masing Pihak!

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:35 WIB

Buaya 70 Kg Terjerat Jaring di Sungai Cibubuay, Warga Simpenan Sebut Ada Buaya Kedua

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:30 WIB

Nelayan Temukan Jasad Mengapung, Ternyata Pelajar Hilang Terseret Ombak 4 Hari Lalu

Senin, 5 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Bukan Pelanggan! Sanca 3 Meter Tiba-tiba Kagetkan Pemilik Warung di Palabuhanratu 

Minggu, 4 Oktober 2026 - 15:08 WIB

Pengerukan Tanah Merah Belum Berizin Kembali Disorot, BEM PTNU Desak Penghentian Sementara!

Minggu, 4 Oktober 2026 - 14:22 WIB

Wabup Andreas Pantau Dampak Cuaca Ekstrem di Cicurug, Pemkab Sukabumi Perkuat Penanganan

Berita Terbaru