JURNALSUKABUMI.COM – Potensi energi panas bumi, dapat membuka ruang bagi pengembangan sektor pariwisata dan pertanian di Kabupaten Sukabumi. Dengan energi panas bumi yang dimiliki saat ini, diharapkan mampu mendorong pemerintah dan pihak swasta untuk memaksimalkan potensi tersebut menjadi sektor produktif di masa depan.
Demikian disampaikan Kabid ESDM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Fajar Muhamad Akbar, kepada jurnalsukabumi.com, Jumat (21/1/22).
“Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014,.tentang Pemerintah Daerah, pertambangan secara umum merupakan kewenangan provinsi dan pusat. Dalam nomenklatur yang baru, kewenangan kita itu hanya dalam koridor pemanfaatan panas bumi secara langsung. Nantinya bisa digunakan untu pengembangan sektor pariwisata di Cisolok dan pertanian,” kata Fajar.
Ke depan kata suami dari Ira Rahmawati itu, pihaknya akan berkonsultasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pemanfaatan panas bumi ujarnya, selain untuk pengembangan bidang pariwisata juga bisa dimanfaatkan untuk dryer atau pengeringan hasil pertanian atau sejenisnya.
Di Kabupaten Sukabumi kata mantan Kabid Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) 2011-2021, energi panas bumi di Kabupaten Sukabumi tersebar di enam titik wilayah yakni di Cisolok, Kabandungan, Cibadak, Nyalindung, Cidadap dan Simpenan. Bahkan tahun lalu telah dilakukan kajian di Desa Mekarasih, Kecamatan Simpenan.
“Tahun 2021, pendahulu saya sudah mengkaji di Wilayah Kecamatan Simpenan. Di tahun Ini juga akan dilanjutkan karena paralel di daerah itu akan melakukan geo listrik. Jadi kita ingin tahu, ada panas bumi atau tidak. Panas bumi,.suhunya berada dikisaran 40 derajat celcius. Baru setelah itu ditentukan titik-titik mana saja yang mengandung energi sumber panas bumi,” jelasnya.
“Geo listrik sekarang sudah kita dapat dan tinggal menentukan titik-titiknya saja. Karena 2023, semuanya harus segera diusulkan ke Bappeda dan baru hasilnya diketahui sekitar 2024, berdasarkan hasil informasi dari geo listrik,” tambahnya.
Munculnya potensi kata dia, karena ada kajian. Kajian itu, yang pertama melihat potensinya, kedua adanya geo listrik dan ketiga dilakukan pengeboran atau eksplorasi agar nantinya bisa mengetahui debit airnya seperti apa. Setelah pengeboran dilakukan, baru menginjak ke tahap berikutnya yaitu visibilitas atau kelayakan.
Redaktur: Usep Mulyana












