JURNALSUKABUMI.COM – Media mainstream dan jagat media sosial tengah diramaikan oleh statment salah satu politisi PDI Perjuangan ketika melakukan rapat kordinasi dengan Kejaksaan Agung. Arteria Dahlan, meminta kepada Jaksa Agung untuk memberhentikan salah satu pimpinan petinggi adhyaksa diberhentikan karena menggunakan Bahasa Sunda dalam rapat.
Hal tersebut mengundang reaksi dari berbagai unsur masyarakat Sunda, salah satunya LGP Jawa Barat atau Laskar Ganjar Puan Jawa Barat. LGP Jabar mendesak Arteria Dahlan meminta maaf kepada masyarakat Sunda atas pernyataan.
Ketua Laskar Ganjar Puan Jawa Barat, sekaligus Ketua Kasepuhan Padepokan Trisakti, Drajat Hidayat Soetardja, menyampaikan, bahwa apa yang disampaikan Arteria Dahlan tidak mencerminkan sosok negarawan yang baik.
Pernyataannya mencederai semangat persatuan indonesia yang telah lama didengungkan oleh para pendiri bangsa. Bahkan terkesan rasis bagi Masyarakat Sunda.
“Kami meminta kepada Arteria untuk segera meminta maaf kepada masyarakat Sunda secara terbuka guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan tidak menjadi dinamika politik yang berkepanjangan,” tuturnya dalam keterangan yang diterima jurnalsukabumi.com, Selasa (18/1/2022).
Drajat menegaskan, Tanah sunda merupakan tanah yang penuh dengan pijakan sejarah. Bung Karno di masa mudanya menghabiskan waktu dan belajar di tanah Sunda. Bahkan beliau terilhami mendeklarasikan ideologi perjuangan politik, terinspirasi dari masyarakat Sunda yakni Kang Aen yang akhirnya melahirkan ideologi Marhenisme.
“Tidak hanya itu, pembentukan PNI saja pertama di tanah sunda yakni Bandung, sehingga ini pijakan sejarah yang harus diketahui Arteria Dahlan sebagai politisi yang berangkat dari partai yang berhaluan ajaran Bung Karno,” paparnya.
Redaktur: Mohammad Noor












