JURNALSUKABUMI.COM – Rencana pemerintah mengurangi subsidi pupuk tahun 2020, mendapatkan kecamana dan keluhan dari Ketua Pimpinan Pusat Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno, rencana tersebut membuat resah para petani. Hal ini tersebut disampaikan dalam pertemuan di kediaman Ketua Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM), Maman Suparman, di Jl. Arif Rahman Hakim Kota Sukabumi, Rabu (05/02/20).
Winarno menambahkan, bahwa pada tahun 2020 ini jumlah pupuk yang bersubsidi untuk Pupuk Urea jumlahnya berkurang sekitar 45 % dari tahun 2019, sedangkan untuk pupuk yang lainnya berkurang sekitar 50 %.
“Dari pada mengurangi jumlah pupuk lebih baik menaikan harganya sedikit, karena banyak petani yang membutuhkan,” ungkap Winarno.
Sementara itu, Ketua Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM), Maman Suparman mengatakan, rencana pegurangan subsidi oleh pemerintah jangan gegabah, karena sesuai dengan keinginan pemerintah agar petani menggunakan sistem pemupukan yang berimbang, dan secara perlahan mengurangi ketergantungan petani dari pupuk kimia.
“Penggunaan pupuk organik sebaiknya dilakukan secara bertahap untuk tiap musimnya dan masih dibantu dengan penggunaan pupuk kimia. Untuk periode tanam selanjutnya penggunaan pupuk organik ditambah, sementara penggunaan pupuk kimia dikurangi, sampai akhirnya secara total menggunakan pupuk organik,” ujar Maman.
Maman mengulas, tentang pendistribusian pupuk bersubsidi yang tidak sesuai dengan aturannya, semisal harga jual di pasaran yang melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET). Pada beberapa kasus ditemukan pendistribusian pupuk yang tidak tepat waktu, sementara petani sudah melakukan penanaman, dilain pihak ketersediaan pupuk bersubsidi di distributor belum tersedia.
“Selain itu juga ditemukan kasus pendistribusian pupuk bersubsidi yang tidak sesuai dengan sasarannya,” ujarnya.
Reporter : Ifan
Redaktur : FK Robbi












