JURNALSUKABUMI.COM – Manisnya madu hutan liar yang dinikmati banyak orang ternyata menyimpan kisah perjuangan penuh risiko. Demi menghidupi keluarganya, Pepen Supendi (36), warga Kampung Ciseupan Girang, Desa Seuseupan, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, rela mempertaruhkan nyawa saat berburu madu lebah liar di tengah hutan.
Setiap kali mencari madu, Pepen harus menembus belantara yang terjal, memanjat pohon-pohon raksasa hingga tebing setinggi puluhan meter untuk mencapai sarang lebah yang berada di lokasi sulit dijangkau. Ancaman jatuh dari ketinggian maupun sengatan ribuan lebah liar menjadi risiko yang selalu mengintainya.
Dengan perlengkapan yang terbatas, Pepen hanya mengandalkan pengalaman bertahun-tahun, keberanian, serta doa agar dapat kembali pulang dengan selamat.
“Saya sadar betul risikonya. Bisa terpeleset jatuh atau tersengat ratusan lebah hingga tubuh bengkak dan sesak napas. Saya pernah mengalaminya, tetapi ini keahlian yang saya miliki untuk mencari nafkah secara halal bagi keluarga,” ujar Pepen, Minggu (12/7/2026).
Bagi Pepen, setiap tetes madu yang berhasil dipanen bukan sekadar hasil alam. Di baliknya terdapat perjuangan, keringat, dan keberanian yang dipertaruhkan demi memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Meski pekerjaan yang dijalaninya penuh bahaya, Pepen tetap bertahan karena berburu madu hutan telah menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarganya. Ia berharap hasil yang diperoleh dapat terus membantu memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anaknya.
Kisah Pepen menjadi gambaran nyata bahwa di balik manisnya madu hutan yang tersaji di meja makan, tersimpan perjuangan keras seorang pencari nafkah yang setiap hari berhadapan dengan risiko maut demi keluarga.
Reporter: Idris Andriansah | Redaktur: Ujang Herlan












