JURNALSUKABUMI.COM – Sebuah rumah sederhana di gang sempit Kampung Warungceri, RT 14/06, Desa Pondok Kaso Landeuh, Kabupaten Sukabumi, menjadi saksi perjuangan panjang sebuah keluarga merawat anggota keluarganya yang terbaring sakit selama lebih dari tiga dekade.
Ahmad Yani (41), anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Saroh dan M. Shaleh, telah menghabiskan 31 tahun hidupnya di atas pembaringan. Kondisinya yang kian memburuk membuat ia tidak lagi mampu beraktivitas dan sepenuhnya bergantung pada perawatan keluarga.
Kehadiran Bupati Sukabumi, Asep Japar, di rumah sederhana itu menjadi momen yang tak pernah dibayangkan oleh keluarga. Kunjungan tersebut terjadi saat bupati sedang menjalankan kegiatan sosial pembagian daging kurban di wilayah tersebut.
Air mata haru tak terbendung dari Epah, kakak kandung Ahmad Yani. Ia mengaku seluruh keluarganya terkejut sekaligus terharu ketika orang nomor satu di Kabupaten Sukabumi itu bersedia melihat langsung kondisi adiknya.
“Demi Allah, kami sekeluarga menangis. Tidak menyangka Pak Bupati mau datang dan melihat adik saya,” ujar Epah sambil menyeka air mata.
Menurut Epah, penderitaan Ahmad Yani bermula ketika masih berusia 10 tahun. Saat itu ia mengalami epilepsi dan terjatuh di kamar mandi. Insiden tersebut menyebabkan cedera serius pada tulang belakang yang mengubah jalan hidupnya hingga kini.
Selama puluhan tahun, berbagai upaya pengobatan telah dilakukan. Ahmad Yani tercatat sudah menjalani lima kali operasi di rumah sakit. Namun kondisi kesehatannya tidak kunjung membaik.
“Sudah lima kali operasi, tetapi kondisinya terus memburuk. Untung BPJS masih aktif sehingga pengobatan tetap bisa berjalan,” tutur Epah.
Di tengah keterbatasan ekonomi, keluarga tidak pernah meninggalkan Ahmad Yani. Tiga saudaranya bergantian merawat setiap hari dengan penuh kesabaran. Sementara sang ibu yang kini sudah lanjut usia juga mengalami kebutaan dan tidak lagi mampu berjalan.
Beban perawatan yang berat kerap menjadi tantangan tersendiri. Selain kebutuhan biaya harian, keluarga harus menghadapi risiko luka baring yang terus memburuk akibat kondisi Ahmad Yani yang tidak dapat bergerak.
Dalam situasi tertentu, ketika keterbatasan ekonomi membuat perawatan tidak optimal, luka yang dideritanya bahkan pernah dipenuhi belatung.
“Sedih sekali. Pernah karena tidak ada biaya dan sulit menjaga kebersihan, lukanya sampai dipenuhi belatung. Setiap hari saya harus mencari uang sekitar Rp150 ribu untuk perawatan adik saya. Syukurnya ada perawat yang baik hati dan rutin membantu membersihkan,” ungkap Epah.
Meski hidup dalam keterbatasan, keluarga mengaku tidak pernah kehilangan harapan. Karena itu, kedatangan bupati menjadi suntikan semangat sekaligus bentuk perhatian yang selama ini mereka rindukan.
“Kami berterima kasih. Baru kali ini saya merasakan ada pemimpin yang begitu peduli kepada masyarakat kecil,” kata Epah.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Sukabumi Asep Japar langsung berkoordinasi dengan tim kesehatan untuk memastikan Ahmad Yani mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan.
Menurutnya, pemerintah daerah akan memberikan kemudahan akses layanan kesehatan meskipun keluarga memilih untuk merawat Ahmad Yani di rumah.
“Keluarga sudah berupaya maksimal, termasuk menjalani lima kali operasi. Walaupun saat ini memilih perawatan di rumah, kami akan memastikan pelayanan kesehatan tetap diberikan dan dipermudah,” ujar Asep Japar.
Di balik kisah panjang Ahmad Yani, tersimpan potret keteguhan keluarga yang selama 31 tahun merawat tanpa menyerah. Dalam rumah sederhana itu, kasih sayang menjadi kekuatan utama untuk bertahan menghadapi cobaan yang tak kunjung usai.
Redaktur: Ujang Herlan












