Dinas Perikanan Sukabumi Minta Maaf, Nelayan Dihantam Paceklik dan Krisis BBM

Jumat, 22 Mei 2026 - 14:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Perayaan Hari Nelayan ke-66 di Palabuhanratu tahun ini menyisakan ironi. Di tengah kemeriahan pesta laut dan ribuan warga yang memadati kawasan pesisir, nelayan justru sedang menghadapi tekanan berat akibat paceklik ikan dan krisis bahan bakar minyak (BBM).

Situasi tersebut diungkap langsung Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sukabumi, Sri Padmoko. Bahkan, di momen perayaan Hari Nelayan, ia menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada para nelayan Sukabumi karena belum mampu menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.

Menurut Padmoko, kondisi nelayan saat ini jauh dari kata ideal. Musim panen raya ikan tongkol yang biasanya terjadi pada pertengahan tahun justru tidak terlihat sejak tahun lalu.

“Ya, sekarang ini bulan Mei mendekati Juni yang biasanya bulan Juni, Juli, Mei itu mulai, Mei itu sudah memulai mulai panen raya. Tapi tahun kemarin Juni, Juli itu yang biasanya puncak panen raya, tongkol itu banyak sekali sampai harganya jatuh, tahun kemarin tidak terjadi. Dan tahun ini, tanda-tandanya di bulan Mei pun belum ada. Nah, tambah lagi sekarang dengan pembatasan BBM,” ungkap Sri Padmoko, Kamis kemarin (21/5/2026).

Kondisi tersebut diperparah dengan pengurangan kuota BBM bagi nelayan. Dampaknya dirasakan mulai dari kapal kecil hingga kapal besar yang menggunakan solar industri.

“BBM, ya. Jadi kuota BBM untuk nelayan kapal di atas 30 GT yang menggunakan solar industri itu tersendat pengirimannya. Terus yang untuk subsidi, untuk nelayan berkurang kuotanya dari 1 bulan itu 320 KL sekarang tinggal 240 KL, dan sudah dipastikan berkurang juga. Sementara kalau kita mau merekomendasikan pembelian di SPBU umum akan mengganggu ketertiban karena antreannya akan menjadi panjang,” bebernya.

Tak hanya persoalan hasil tangkapan dan BBM, nelayan juga dihadapkan pada polemik regulasi benih bening lobster (BBL) yang dinilai membingungkan di lapangan. Aturan pusat dan daerah yang dinilai belum sinkron membuat nelayan sering berada di posisi sulit.

Padmoko mengaku sedih melihat kondisi yang terus membebani nelayan Sukabumi. Ia menilai nelayan saat ini berada dalam situasi yang serba sulit.

“Dan ini saya tidak bisa berbuat banyak, selain menyuarakan ini, saya sedih dan saya sampaikan permohonan maaf kepada nelayan Kabupaten Sukabumi di Hari Nelayan ini. Terima kasih,” tandasnya.

Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

HBA 2026, Kajari Sukabumi Tegaskan Penegakan Hukum Harus Berlandaskan Integritas dan Keadilan
Musda MUI Sukabumi 2026, Wabup: Momentum Konsolidasi dan Evaluasi Kemaslahatan Umat
Tak Sekadar Naik Tingkat, Atlet Tarung Derajat Sukabumi Digembleng Bidik Porda Jabar
Jembatan Garuda Suci di Cikembar Diresmikan, Ini Pesan Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih! 
DLH Sukabumi Ungkap Pola Pengelolaan Sampah yang Benar, Pengangkutan Minimal Seminggu Sekali
DLH Sukabumi Bongkar Dugaan Pengelolaan Sampah Ilegal di Palabuhanratu
Kadiskominfosan: SMSI Sukabumi Raya Diharapkan Jadi Motor Penggerak Media Siber Profesional
Jelang Musda MUI 2026, Diaga Muda Indonesia Sukabumi Raya Serukan Ukhuwah Islamiyah

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 12:45 WIB

HBA 2026, Kajari Sukabumi Tegaskan Penegakan Hukum Harus Berlandaskan Integritas dan Keadilan

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:28 WIB

Musda MUI Sukabumi 2026, Wabup: Momentum Konsolidasi dan Evaluasi Kemaslahatan Umat

Senin, 20 Juli 2026 - 15:56 WIB

Tak Sekadar Naik Tingkat, Atlet Tarung Derajat Sukabumi Digembleng Bidik Porda Jabar

Senin, 20 Juli 2026 - 15:47 WIB

Jembatan Garuda Suci di Cikembar Diresmikan, Ini Pesan Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih! 

Senin, 20 Juli 2026 - 12:05 WIB

DLH Sukabumi Ungkap Pola Pengelolaan Sampah yang Benar, Pengangkutan Minimal Seminggu Sekali

Berita Terbaru