LKK Tolak Gelar Pahlawan Soeharto, Sebut Cacat Moral dan Keadilan Sejarah

Senin, 10 November 2025 - 10:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COMWacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto kembali menuai penolakan. Lingkar Kajian Kebangsaan (LKK) menyatakan sikap menolak keras usulan tersebut karena dinilai mencederai semangat Reformasi dan mengkhianati keadilan sejarah bangsa.

Penolakan itu disampaikan dalam diskusi publik daring bertajuk “Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan untuk Soeharto” yang digelar Minggu (9/11/2025) malam.

Acara menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Peneliti IPRC Fahmi Iss Wahyudy dan Anggota DPR RI Komisi X Fraksi PDI Perjuangan Bonnie Triyana, dengan moderator Septian Hidayat.

Soeharto Dinilai Tak Layak Jadi Pahlawan

Peneliti IPRC Fahmi Iss Wahyudy menilai Soeharto tidak memenuhi kriteria sebagai pahlawan nasional karena memiliki catatan pelanggaran kemanusiaan dan korupsi sistemik selama masa pemerintahannya.

“Pahlawan sejati bukan hanya mereka yang membangun fisik bangsa, tetapi juga yang menjaga moral, kemanusiaan, dan kedaulatan rakyat,” ujar Fahmi.

“Tragedi kemanusiaan 1965–1966, korupsi sistemik, dan represi politik di bawah Soeharto menodai makna kepahlawanan.”

Fahmi menambahkan bahwa pengangkatan Soeharto tanpa pengakuan dan penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu merupakan bentuk ketidakadilan sejarah.

“Tak ada rekonsiliasi tanpa kebenaran,” tegasnya.

Bonnie Triyana: Proses Pengajuan Sarat Kepentingan

Senada dengan Fahmi, Bonnie Triyana juga menolak pemberian gelar tersebut. Ia menilai mekanisme pengajuan gelar pahlawan kepada Soeharto cacat prosedural dan sarat kepentingan politik.

“Jabatan presiden itu jabatan publik. Ia dipilih rakyat untuk menjalankan tugas sesuai konstitusi. Kalau salah, ya harus dikritik. Mendesakralisasi jabatan publik bukan melecehkannya, tetapi menempatkannya dalam konteks demokratis,” ujar Bonnie.

Menurutnya, seorang pahlawan nasional tidak seharusnya memiliki catatan sejarah kelam yang mencederai nilai perjuangan. Ia juga menyinggung krisis 1997–1998 yang menunjukkan rapuhnya fondasi ekonomi Orde Baru.

“Apa yang dibangun selama puluhan tahun itu hanya seperti raksasa berkaki lempung,” tambahnya.

Bonnie menyebut pengajuan gelar pahlawan Soeharto juga tidak berasal dari aspirasi akar rumput dan tidak melalui kajian publik yang mendalam.

“Pengajuan yang dilakukan secara terburu-buru oleh Kementerian Sosial menimbulkan polemik dan patut dipertanyakan,” katanya.

Empat Alasan Penolakan

Dalam pernyataannya, LKK menegaskan empat alasan utama menolak pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional:

  • Pelanggaran HAM berat yang belum terselesaikan, termasuk tragedi 1965–1966.
  • Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang sistematis dan menghancurkan fondasi ekonomi nasional.
  • Penyimpangan ideologi dan nasionalisme, dengan menjauh dari semangat kerakyatan Bung Karno dan prinsip Trisakti.
  • Rezim anti-demokrasi dan pembungkaman publik, termasuk pengekangan kebebasan pers dan manipulasi sejarah (de-Soekarnoisasi).

Seruan LKK

LKK mendesak pemerintah untuk mencabut usulan pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto dan mengajak masyarakat untuk terus mengawal kebenaran sejarah.

“Kita tidak bisa membangun masa depan bangsa dengan menutupi luka sejarah,” tutup pernyataan resmi LKK.

Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

Sempat Lumpuh Akibat Longsor, Arah Ibu Kota via Tol Bocimi Kembali Dibuka
Hergun Tegaskan Belum Ada Pembahasan Revisi UU Pemilu 
APPMBGI National Summit 2026, DPD Sukabumi: Kolaborasi Menuju Generasi Cerdas dan Sehat
Akses KA Menuju Sukabumi Terganggu, Perjalanan KA Siliwangi Dibatalkan
Arnold Herman Sama, Mahasiswa Nusa Putra University Menang Debut Tinju di Leindel Combat Sport Vol 2
Hergun: Narasi Inkonstitusional Saiful Mujani Ancam Fondasi Demokrasi dan Konstitusi
Hergun Soroti Dilema WFH dan “Rapor Merah” Sengketa Lahan yang Hambat Investasi di Tangerang
GMNI Sukabumi Desak Pemerintah Bongkar Dalang Intelektual Penyiraman Air Keras Aktivis

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 08:07 WIB

Sempat Lumpuh Akibat Longsor, Arah Ibu Kota via Tol Bocimi Kembali Dibuka

Sabtu, 2 Mei 2026 - 22:06 WIB

Hergun Tegaskan Belum Ada Pembahasan Revisi UU Pemilu 

Minggu, 26 April 2026 - 09:35 WIB

APPMBGI National Summit 2026, DPD Sukabumi: Kolaborasi Menuju Generasi Cerdas dan Sehat

Senin, 20 April 2026 - 08:18 WIB

Akses KA Menuju Sukabumi Terganggu, Perjalanan KA Siliwangi Dibatalkan

Rabu, 15 April 2026 - 10:14 WIB

Arnold Herman Sama, Mahasiswa Nusa Putra University Menang Debut Tinju di Leindel Combat Sport Vol 2

Berita Terbaru

RAGAM

DPPKB: Kampung KB Desa Kalibunder Jadi Pusat Perubahan

Kamis, 14 Mei 2026 - 20:44 WIB