JURNALSUKABUMI.COM – Warga Kampung Erpah, RT 18 RW 03, Desa Padasenang, Kecamatan Cidadap, tengah diliputi kegembiraan. Setelah puluhan tahun menanti, jalan yang membentang di sekitar pemukiman mereka akhirnya diaspal oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim).
Namun yang membuat suasana semakin bersejarah, pengaspalan ini menjadi yang pertama kali dilakukan sejak jalan tersebut dibangun pada masa pemerintahan Kolonial Belanda.
“Kalau dari cerita orangtua di sini, jalan ini dibuat oleh Belanda pada masa penjajahan dulu. Baru sekarang, di tahun 2025, diaspal untuk pertama kalinya. Kami sangat bersyukur sekali,” ujar Muiz Darusalam (31), warga Kampung Erpah.
Jalan yang dulunya menjadi akses utama para pekerja perkebunan pada era kolonial itu kini kembali memiliki napas baru. Panjang jalan yang diaspal mencapai 335 meter dengan lebar 2 meter, menggunakan lapen hotmix dengan anggaran Rp99 juta yang bersumber dari APBD Kabupaten Sukabumi tahun 2025.
Meski belum seluruh ruas jalan tersentuh aspal, warga tetap merasa bangga dan berterima kasih. Sebab, jalan yang dulunya dikenal sebagai jalur peninggalan Belanda yang nyaris terlupakan, kini menjadi akses vital untuk menunjang ekonomi masyarakat desa.
“Dulu jalan ini hanya bebatuan dan tanah. Kalau hujan licin sekali. Sekarang bisa dilewati motor dan mobil lebih mudah. Ini seperti membuka kembali sejarah lama yang akhirnya diperbaiki,” tambah Muiz.
Kegembiraan warga tidak berhenti di peresmian. Mereka bahkan berinisiatif melakukan kerja bakti, membersihkan rumput di sisi jalan, serta membuat kesepakatan bersama untuk menjaga kualitas jalan dengan membatasi kendaraan bermuatan berat.
“Kalau ada mobil bawa kayu atau muatan berat, warga langsung cegat. Kami sepakat menjaga jalan ini supaya awet dan tidak cepat rusak,” jelas Muiz.
Jalan peninggalan kolonial yang kini bertransformasi menjadi jalur pertanian modern ini memberi dampak besar bagi warga. Mayoritas masyarakat Padasenang bekerja sebagai petani palawija dan padi, dan sebelumnya mengalami kerugian akibat tingginya biaya angkut karena kondisi jalan rusak.
“Selama ini harga hasil panen kami rendah karena ongkos angkut mahal. Dengan jalan bagus, biaya bisa ditekan, dan kami harap harga panen bisa meningkat,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan












