JURNALSUKABUMI.COM – Aksi unjuk rasa ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Amarah Rakyat Sukabumi (Garasi) pada Senin (1/9/2025) diwarnai kericuhan.
Meskipun dimulai dengan damai, situasi memanas hingga pecah insiden kekerasan yang menyebabkan jatuhnya korban.
Aksi yang berpusat di sejumlah lokasi strategis, termasuk Polres Sukabumi Kota, Balai Kota, dan DPRD Kota Sukabumi, mulai memanas pada pukul 17.30 WIB.
Saat massa bergerak menuju Tugu Adipura, situasi berubah tegang dan berakhir dengan bentrokan. Salah satu korban luka, Dede Galib, menceritakan detik-detik ia terkena lemparan batu yang mengenai kepala.
“Saya lagi di tengah, tiba-tiba ada lemparan batu. Waktu itu saya cuma mau bantu bapak-bapak yang lagi dipukuli, jadi nggak lihat dari mana asalnya,” ungkap Dede.
Ia menuturkan bahwa luka akibat lemparan batu tersebut cukup serius hingga butuh jahitan, tetapi akhirnya ia memilih untuk tidak melakukannya.
Aksi massa ini dipicu oleh kenaikan tunjangan DPR RI yang dianggap tidak etis di tengah krisis ekonomi. Kenaikan tersebut dianggap melecehkan hati rakyat yang sedang menghadapi kenaikan angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan meluasnya kemiskinan.
Sebagai informasi, gelombang protes serupa telah terjadi sebelumnya. Aksi pada 28 Agustus 2025 bahkan berakhir tragis, ketika seorang pengemudi ojek daring, almarhum Affan Kurniawan, tewas terlindas mobil taktis Brimob. Peristiwa ini menjadi pemicu kemarahan lebih lanjut dan memperkuat tuntutan para mahasiswa.
Melalui aksi ini, Gerakan Amarah Rakyat Sukabumi menegaskan 11 tuntutan, termasuk pencopotan Kapolri, pertanggungjawaban DPR RI dan Pemerintah Kota Sukabumi, serta tuntutan untuk pencabutan peraturan yang menaikkan tunjangan DPRD Kota.
Reporter: Fira AFS | Redaktur: Ujang Herlan












